Kuntilanak, pocong, dan genderuwo sudah jadi selebriti horor nasional. Tapi Nusantara menyimpan ratusan entitas mitologi daerah yang nyaris tidak pernah keluar dari kampung halamannya — padahal banyak yang terdokumentasi dalam catatan folklore dan tradisi lisan yang dikaji peneliti. Ini lima di antaranya.
1. Banaspati — Jawa
Bola api melayang yang dalam tradisi Jawa digambarkan sebagai makhluk halus berkepala terbakar, kadang digambarkan berjalan dengan tangan. Berbeda dari hantu penampakan biasa, Banaspati dalam tuturan Jawa dianggap agresif — ia mengejar. Nama “banaspati” sendiri berakar dari bahasa Sanskerta yang berarti “penguasa hutan”.
2. Palasik — Minangkabau, Sumatera Barat
Dalam folklore Minangkabau, palasik adalah manusia berilmu hitam yang kepalanya dapat terlepas dan terbang mencari mangsa — terutama bayi dan anak kecil. Kepercayaan ini begitu mengakar sehingga sebagian orang tua di Sumatera Barat masih memasang gelang penangkal untuk bayi. Motif “kepala terbang” ini menarik karena punya kerabat di seluruh Asia Tenggara: penanggalan di Malaysia, krasue di Thailand, manananggal di Filipina.
3. Parakang — Bugis-Makassar, Sulawesi Selatan
Manusia yang karena ilmu yang salah jalan berubah menjadi makhluk pengisap — dalam tuturan Bugis-Makassar, parakang berubah wujud (sering digambarkan menyerupai hewan atau benda) dan mengincar orang sakit serta ibu melahirkan. Cerita parakang masih hidup kuat di Sulawesi Selatan dan menjadi bahan kajian antropologi lokal tentang kontrol sosial dalam masyarakat.
4. Leak — Bali
Di luar Bali, leak sering disederhanakan jadi “penyihir jahat”. Dalam tradisi Bali, leak (dibaca léak) adalah praktisi pangiwa — ilmu kiri — yang dalam lontar-lontar Bali digambarkan mampu mengubah wujud. Kepala dan isi perutnya terbang terpisah dari tubuh. Yang jarang diketahui: dalam kosmologi Bali, leak bukan sekadar “jahat” — ia bagian dari keseimbangan rwa bhineda antara kekuatan kiri dan kanan.
5. Wewe Gombel — Semarang, Jawa Tengah
Sosok perempuan yang menculik anak-anak — tapi dengan twist yang sering hilang dari versi popnya: dalam tuturan aslinya yang dikaitkan dengan kawasan Gombel di Semarang, Wewe Gombel menculik anak yang ditelantarkan orang tuanya, lalu justru merawatnya. Ia “hantu” yang berfungsi sebagai kritik sosial: teguran bagi orang tua yang abai, bukan sekadar monster.
Yang menarik dari kelima cerita ini bukan seramnya — tapi fakta bahwa semuanya terdokumentasi: dalam lontar, catatan folklore, kajian antropologi, dan tradisi lisan yang direkam peneliti. Mitologi daerah bukan sekadar cerita menakut-nakuti; ia arsip cara masyarakat menjaga nilai, memperingatkan bahaya, dan mengkritik perilaku sosial.
Mau tahu makhluk mitos dari provinsimu — versi yang terdokumentasi, bukan versi karangan? Tanyakan di hellowayang.com/chat.
Sumber
- Knowledge base folklore Hellowayang — dikurasi dari repositori budaya, kajian folklore, dan literatur tradisi lisan Nusantara (57+ entri terdokumentasi)
- Kajian folklore Indonesia, a.l. tradisi penelitian folklore James Danandjaja (Folklor Indonesia, 1984)