Test our Agent, Currently We are on Alpha↗
Hellowayang Hellowayang WIB
← Kembali ke Semua Artikel
Kuliner Nusantara

Alasan Orang Sunda Suka Lalapan: Jejak Sejarah dan Filosofi Alam

Tanggal Terbit
17 Agustus 2026
Waktu Baca
3 Menit
Kategori
Kuliner Nusantara
Penulis
Tim Hellowayang

Ketika berkunjung ke rumah makan khas Sunda, pemandangan pertama yang menyambut adalah deretan sayuran segar berwarna hijau di atas meja—lalapan. Kebiasaan menyantap sayuran mentah ini ternyata bukan sekadar selera, melainkan tradisi yang telah mengakar sejak lebih dari seribu tahun silam. Apa yang membuat orang Sunda begitu mencintai lalapan? Mari telusuri jejak sejarah, ragam, dan filosofinya.

Jejak Sejarah Lalapan Sunda Sejak Abad ke-10

Kegemaran orang Sunda mengonsumsi lalapan ternyata sudah tercatat dalam artefak kuno. Prasasti Taji yang bertahun 901 Masehi, ditemukan di Ponorogo, Jawa Timur, menyebutkan sebuah hidangan bernama ‘Kuluban Sunda’ yang berarti lalap. Artinya, tradisi menyantap sayuran segar di tanah Sunda telah berlangsung sejak sekitar abad ke-10 Masehi, jauh sebelum pengaruh kuliner modern masuk.

Dokumentasi Ilmiah tentang Lalap pada Masa Kolonial

Pada masa penjajahan Belanda, dua peneliti bernama Dr. JJ. Ochse dan Dr. RC. Backhiuzen van den Brink mendokumentasikan berbagai jenis lalap dalam buku berjudul ‘Indische Groenten’ (Sayur-sayuran Hindia). Buku yang diterbitkan oleh Archipel Drukkerij di Bogor pada 1931 ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Sunda oleh Isis Prawiranagara pada 1944 dengan judul ‘Lalab-lalaban’. Dalam pengantarnya, dijelaskan bahwa lalap tidak hanya terbatas pada daun-daunan, tetapi juga mencakup umbi, bunga, hingga biji-bijian.

Ragam Jenis Lalapan: Dari Daun hingga Biji

Lalapan Sunda sangat beragam. Daun singkong, pepaya, dan selada hanyalah sebagian kecil dari puluhan jenis daun yang biasa disantap. Selain itu, ada umbi-umbian seperti kunyit dan kencur, bunga seperti kenikir dan honje (combrang), serta biji-bijian seperti biji nangka dan petai. Keragaman ini menunjukkan kekayaan alam tropis yang dimanfaatkan masyarakat Sunda untuk memenuhi kebutuhan gizi sekaligus cita rasa.

Cara Menikmati Lalapan: Mentah, Rebus, atau Diolah

Lalapan dapat dinikmati dengan berbagai cara. Sebagian sayuran dimakan mentah, sebagian direbus atau dikukus, dan ada pula yang diolah dengan bumbu. Misalnya, rebusan kangkung, kol, labu, pare, dan nangka sayur yang dicampur bumbu kacang akan menjadi lotek. Sementara itu, karedok dibuat dari leunca dan kacang panjang yang disiram bumbu kacang dengan tambahan garam, terasi, kencur, bawang putih, dan daun kemangi. Menariknya, kuliner Sunda tidak hanya soal lalapan; bakso cuanki juga menjadi sajian favorit yang patut dicoba.

Filosofi Harmoni Alam di Balik Kegemaran Lalapan

Unus Suriawiria, pakar mikrobiologi dari Institut Teknologi Bandung, dalam makalahnya untuk Konferensi Internasional Budaya Sunda I pada Agustus 2001 mengungkap bahwa dari 80 jenis makanan Sunda, lebih dari 65 persen di antaranya adalah tumbuh-tumbuhan. Dalam bukunya ‘Lalaban dalam Budaya dan Kehidupan Masyarakat Sunda’, ia menjelaskan bahwa kegemaran makan lalap sejalan dengan budaya Sunda yang menjunjung harmoni antara manusia dan alam. Pengetahuan turun-temurun memilah tanaman yang aman dikonsumsi menjadi bukti kearifan lokal yang luar biasa.

Sudahkah kamu menikmati sensasi lalapan segar khas Sunda? Tradisi ini bukan sekadar makanan, melainkan warisan budaya yang menghubungkan kita dengan alam dan sejarah. Jika ingin berbagi pengalaman atau bertanya lebih jauh tentang kuliner Nusantara, jangan ragu untuk mengunjungi hellowayang.com/chat dan berbincang langsung dengan kami.

Sumber

  • kanalonline.web.id – Alasan Orang Sunda Suka Makan Lalapan
  • Beritasatu (dikutip dari kanalonline.web.id)
  • Tirto.id – Artikel tentang lalapan Sunda
  • Buku Indische Groenten oleh Dr. JJ. Ochse dan Dr. RC. Backhiuzen van den Brink (1931), terjemahan Lalab-lalaban oleh Isis Prawiranagara (1944)
  • Makalah Unus Suriawiria untuk Konferensi Internasional Budaya Sunda I (2001)
ChatGPT nebak. Hellowayang ngutip.

Jawaban Real-Time, Selalu dengan Sumbernya

Tanya apa saja tentang Indonesia — regulasi, budaya, data ekonomi — dan dapatkan jawaban real-time dengan sumbernya. Gratis untuk mulai.

Mulai Chat Gratis →