Bayangkan sebuah lapangan adat tempat seluruh warga berkumpul, lalu seorang tetua mengangkat linggis yang membara merah dan menantang siapa pun untuk memegangnya dengan tangan kosong. Inilah attunu panroli, ritual milik masyarakat adat Suku Kajang di Sulawesi Selatan yang menjadikan besi panas sebagai hakim kejujuran. Di tengah dunia yang mengandalkan bukti dan saksi, komunitas ini justru menyerahkan pencarian kebenaran pada api, keyakinan, dan wibawa sang pemimpin adat.
Apa Itu Attunu Panroli?
Attunu panroli adalah salah satu ritual paling unik sekaligus berbahaya yang dimiliki Suku Kajang. Inti dari upacara ini terlihat sederhana namun mengerikan: seseorang harus menggenggam sebatang linggis yang sebelumnya telah dibakar hingga membara, dan ia melakukannya tanpa alat pelindung apa pun, murni dengan tangan telanjang.
Meski tampak seperti aksi nekat, ritual ini memiliki tujuan yang jelas bagi masyarakat Kajang. Attunu panroli difungsikan sebagai wadah untuk menguji kejujuran warga. Besi panas dipercaya menjadi penentu siapa yang berkata benar dan siapa yang menyembunyikan kesalahan.
Digelar Saat Muncul Masalah di Kampung
Ritual ini tidak dilakukan sembarangan atau setiap hari. Attunu panroli biasanya baru digelar ketika muncul persoalan serius di tengah masyarakat adat, salah satu yang paling sering memicunya adalah kasus pencurian di lingkungan pemukiman. Ketika sebuah kejahatan terjadi namun pelakunya sulit dipastikan, upacara inilah yang menjadi jalan keluar adat.
Ketika ritual diputuskan untuk dilaksanakan, seluruh warga wajib hadir tanpa terkecuali, termasuk mereka yang dicurigai sebagai pelaku. Semua berkumpul di sebuah lapangan yang memang menjadi tempat digelarnya upacara adat, menciptakan suasana tegang di mana setiap orang menanti siapa yang berani membuktikan kebersihan dirinya.
Ammatoa, Sang Pemimpin Upacara
Upacara sekhusyuk dan seberisiko ini tidak dipimpin oleh sembarang orang. Attunu panroli dipandu langsung oleh ketua adat Suku Kajang yang menyandang gelar Ammatoa. Kehadiran Ammatoa bukan sekadar formalitas, melainkan pusat dari seluruh jalannya ritual, sebab dialah yang paling dipercaya menjaga hukum dan nilai-nilai leluhur.
Sosok pemimpin adat yang begitu dihormati ini juga dijumpai pada masyarakat adat lain di Nusantara, seperti peran tabib dan pemuka spiritual dalam tradisi Sikerei suku Mentawai. Baik Ammatoa maupun figur serupa menjadi penjaga keseimbangan antara manusia, aturan, dan dunia gaib dalam komunitasnya.
Peringatan Sebelum Linggis Digenggam
Sebelum ritual benar-benar dimulai, Ammatoa lebih dulu menyampaikan peringatan kepada seluruh warga yang hadir. Menurut keyakinan mereka, linggis membara itu tidak akan terasa panas sedikit pun bila dipegang oleh orang yang jujur. Sebaliknya, jika ada kebohongan meski hanya sedikit, besi panas itu dipercaya akan melumat dan melahap tangan si pemegang.
Uniknya, Ammatoa tidak hanya berbicara. Ia langsung mempertunjukkan keberanian dan kejujurannya dengan memegang sendiri linggis panas tersebut di hadapan masyarakat adat dan orang-orang yang dicurigai. Peragaan ini sekaligus menjadi bukti hidup bahwa bagi mereka yang bersih hati, api sekalipun tak mampu melukai.
Nasib Pelaku yang Melarikan Diri
Lalu bagaimana jika si pencuri memilih kabur dan tidak berani mengikuti upacara attunu panroli? Dalam keyakinan Suku Kajang, melarikan diri bukanlah jalan keluar yang aman, justru sebaliknya. Ketika pelaku menghindar dari ritual, para sesepuh adat akan berkumpul dan melancarkan sanksi yang jauh lebih menakutkan.
Para tetua itu dipercaya mengucapkan mantra yang ditujukan langsung kepada sang pencuri. Konon, mantra tersebut akan membuat orang yang bersangkutan jatuh sakit, dan penderitaannya diyakini berujung pada kematian. Bagi masyarakat adat, ini menegaskan bahwa kejujuran bukan sekadar pilihan moral, melainkan urusan hidup dan mati.
Attunu panroli mengingatkan kita bahwa kekayaan budaya Indonesia menyimpan cara-cara menegakkan keadilan yang jauh berbeda dari yang kita kenal sehari-hari. Ingin menggali lebih banyak kisah suku, tradisi, dan ritual Nusantara yang memikat? Ngobrol dan bertanya langsung lewat hellowayang.com/chat, teman ngobrol AI yang paham konteks budaya Indonesia.
Sumber
- Materi “Ritual Ekstrim Attunu Panroli” tentang tradisi uji kejujuran Suku Kajang yang dipimpin Ammatoa.