Bayangkan selembar kain yang warnanya seberani watak pemiliknya: merah menyala, kuning padi, hijau daun, dan biru laut yang berpadu dalam tarikan garis yang rapat dan penuh percaya diri. Itulah Batik Madura, kerajinan pesisir yang tidak pernah malu tampil mencolok. Di balik keindahannya yang seolah berteriak, tersimpan kisah peperangan, hubungan darah antar-keraton, dan filosofi yang mengakar pada karakter masyarakat Pulau Garam.
Lahir dari Keraton Pamekasan
Jejak Batik Madura banyak ditelusuri hingga ke kerajaan di Pamelingan, wilayah yang kini kita kenal sebagai Pamekasan. Keraton Mandilaras di bawah kepemimpinan Pangeran Ronggosukowati menjadi pusat pemerintahan sekaligus cikal bakal berdirinya Kabupaten Pamekasan. Dari lingkungan istana inilah tradisi membatik mulai tumbuh dan menyebar ke masyarakat luas.
Batik tulis Madura mulai dikenal lebih luas sekitar abad ke-16 hingga ke-17. Momennya bertepatan dengan peperangan di Pamekasan antara Raden Azhar, sang ulama penasihat spiritual Adipati Raden Ismail (Adipati Arya Adikara IV), melawan Ke’Lesap, putra Madura keturunan Cakraningrat I. Menariknya, motif batik Madura banyak mengadopsi corak Yogyakarta dan Solo. Kemiripan ini bukan kebetulan: ada hubungan darah antara raja Mataram dan para pembesar Madura, sebab Kerajaan Bangkalan pada masa Cakraningrat I merupakan bawahan Kesultanan Mataram yang dipimpin Sultan Agung.
Arya Wiraraja dan Kharisma Motif Parang
Riset R.A. Sekartaji Suminto berjudul Batik Madura: Menilik Ciri Khas dan Makna Filosofinya (2015) menyebut satu tokoh yang paling berjasa memperkenalkan batik ke tanah Madura, yaitu Adipati Sumenep, Arya Wiraraja. Namanya harum karena kedekatannya dengan Raden Wijaya, pendiri Kerajaan Majapahit, sebuah pertalian yang menegaskan betapa Madura sejak lama menjadi bagian dari jaringan kekuasaan besar Nusantara.
Salah satu motif yang paling melekat adalah parang, kain dengan tampilan garis melintang yang simetris. Konon, ketika Raden Azhar mengenakan kain bermotif parang, ia tampak gagah dan berwibawa. Sejak saat itu, batik menjadi perbincangan hangat di kalangan pembesar Pamekasan dan perlahan memikat rasa ingin tahu masyarakat luas.
Empat Warna, Empat Makna
Kekhasan Batik Madura bisa dibaca dari dua hal: warna dan motif. Dari sisi warna, batik ini cenderung berani dan tegas, didominasi merah, kuning, hijau (dalam bahasa setempat disebut biruh), serta biru. Kesannya cerah, menonjol, dan tidak takut mencuri perhatian, persis seperti karakter orang Madura yang lugas.
Setiap warna membawa pesannya sendiri. Merah melambangkan watak masyarakat Madura yang kuat dan keras. Hijau mewakili nuansa religi, mengingat sejumlah kerajaan Islam pernah berdiri dan berkembang di pulau ini. Kuning menggambarkan bulir-bulir padi hasil pertanian penduduk. Sementara biru adalah cerminan laut yang mengelilingi Pulau Madura di setiap sisinya.
Pewarna Alam dan Kesabaran Batik Gentongan
Warna-warna itu tidak lahir dari zat sintetis, melainkan dari soga alam. Mengkudu dan tingi menghasilkan merah, daun arum memberi biru, sementara kulit mengkudu yang dicampur tawas memunculkan efek hijau. Gelap-terangnya kain ditentukan oleh proses perendaman yang bisa berlangsung antara satu bulan hingga satu tahun penuh, sebuah kesabaran panjang yang justru membuat warnanya jauh lebih awet.
Seiring zaman, makna dan ragam warnanya terus berkembang hingga muncul ungu, oranye, bahkan merah muda. Namun batik gentongan tetap setia pada palet alam klasiknya. Ketekunan merawat warisan seperti ini setali tiga uang dengan cara bangsa kita menjaga wayang, kerajinan lain yang bahkan diakui UNESCO sebagaimana terpajang di Museum Wayang Jakarta.
Empat Daerah, Empat Karakter
Batik Madura bukan entitas tunggal; tiap daerah punya wajahnya sendiri. Pamekasan tampil paling berani dengan warna tajam dan cerah lewat motif seperti Sekarjagat, Keong Mas, Matahari, Daun Memba, dan Gorek Basi, kerap diisi serat kayu atau mo’ramo’ di bagian kosong. Bangkalan, khususnya Tanjungbumi, terkenal dengan teknik batik gentongan yang halus, cerah, dan konon memiliki lebih dari seribu jenis motif seperti rammo, rongterong, hingga panca warna.
Sampang punya Batik Kotah dengan motif flora dan fauna, kembang dan burung, yang didominasi merah dan hijau di atas sutera dan katun. Sedangkan Sumenep cenderung bermain dengan corak satu warna namun tetap bernuansa cerah dan naturalis. Secara umum, pengerjaan Batik Madura memang tidak sehalus batik Jawa keraton, tata warnanya mencolok, dan motifnya besar serta tegas, selaras dengan alam Madura yang keras dan watak penduduknya yang pemberani.
Batik Madura adalah bukti bahwa warisan budaya bisa berbicara lantang tanpa kehilangan kedalaman maknanya. Ingin menyelami lebih banyak cerita di balik kain, tradisi, dan kekayaan budaya Nusantara lainnya? Teruskan penjelajahanmu dan ngobrol langsung bersama kami di hellowayang.com/chat.
Sumber
- R.A. Sekartaji Suminto, “Batik Madura: Menilik Ciri Khas dan Makna Filosofinya” (2015).
- Materi dokumentasi “Batik Madura” mengenai sejarah, karakteristik warna, motif, dan ciri khas batik berdasarkan daerah asal (Pamekasan, Bangkalan, Sampang, dan Sumenep).