Di lereng Gunung Lawu, sebuah tradisi membatik pernah nyaris padam. Batik dari Desa Sidomukti, Magetan, sempat berjaya sebagai mata pencaharian warga, lalu terhempas gempuran batik printing yang lebih murah, hingga produksinya benar-benar terhenti. Namun dari desa yang rimbun pohon bambu itu lahir sebuah motif khas yang kini menjadi identitasnya: Pring Sedapur. Inilah kisah bangkitnya batik Magetan dari ambang kepunahan.
Gunung Lawu, Sumber Ide yang Tak Pernah Kering
Terletak di kawasan perbukitan dengan Gunung Lawu sebagai tumpuan hidup warganya, Magetan dikenal kaya akan hasil alam. Perkebunan dan pertanian menjadi tulang punggung ekonomi, mulai dari kebun jeruk pamelo, mangga, hingga stroberi yang tumbuh subur di dataran tingginya. Kekayaan itu tak hanya soal panen. Panorama alam Magetan yang memikat juga menyimpan potensi besar sebagai destinasi wisata.
Bagi para pembatik, kekayaan alam ini adalah gudang inspirasi yang seolah tak pernah habis. Beragam flora dan fauna yang hidup di sekitar Gunung Lawu menjadi bahan mentah untuk menciptakan ragam motif, sehingga setiap helai kain seakan merekam wajah lingkungan tempat ia dibuat.
Desa Sidomukti dan Denyut Para Pembatiknya
Pusat kerajinan batik Magetan berdenyut di Desa Sidomukti, Kecamatan Plaosan. Di desa ini setidaknya ada tiga kelompok pembatik yang aktif, yaitu Kube Mukti Rahayu, Kube Mukti Lestari, dan Sruling Wetan. Pada mulanya, membatik bukanlah pekerjaan utama. Warga menekuninya sekadar untuk membuat pakaian sendiri sekaligus mengisi waktu luang seusai bekerja.
Titik baliknya datang pada era 1960-an. Ketika para pengusaha pakaian di kota Magetan mulai memesan kain batik dari Sidomukti, kegiatan yang semula hanya selingan itu perlahan berubah menjadi sumber penghasilan yang menjanjikan bagi warga desa.
Ketika Printing Meruntuhkan Batik Tulis
Kejayaan itu tak bertahan lama. Menjelang akhir 1970-an, batik Sidomukti mulai meredup. Para pengusaha Magetan berpaling ke batik dari Solo yang harganya lebih murah. Persoalan diperparah oleh regenerasi yang tersendat: banyak pembatik senior meninggal dunia, sementara penerus tak cukup banyak untuk melanjutkan tradisi menulis di atas kain.
Tekanan terbesar justru datang dari luar. Sepanjang 1970-an, batik teknik printing merajalela dan menggeser batik tulis maupun batik cap. Pada 1980, keduanya terpaksa mundur dari persaingan, membuat banyak industri kecil gulung tikar. Gelombang ini menjalar ke berbagai daerah penghasil batik, termasuk Magetan. Pada rentang 1975 hingga 1985, produksi batik di Sidomukti anjlok, bahkan sampai benar-benar terhenti.
Uluran Tangan Pemerintah yang Belum Membuahkan Hasil
Pemerintah setempat tak tinggal diam. Pada 1982, Pemerintah Kabupaten Magetan melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) menggelontorkan bantuan peralatan, pembinaan, serta pelatihan membatik bagi warga Sidomukti. Sasarannya adalah menggali potensi lokal, sekaligus mendorong para pembatik agar tak sekadar menjadi buruh, melainkan mampu mengolah kain hingga menjadi pakaian jadi.
Meski pembinaan dilakukan secara berkala, program ini seperti berjalan di tempat. Sejumlah hambatan menghadang, mulai dari keterbatasan modal, minimnya minat masyarakat, hingga yang paling mendasar: rendahnya kesadaran warga akan nilai potensi lokal yang mereka miliki.
Pring Sedapur, Motif yang Menghidupkan Kembali Sidomukti
Angin segar baru berembus pada awal 2000-an. Kepala desa Sidomukti yang terpilih saat itu menaruh perhatian penuh pada industri batik. Bantuan peralatan dan perlengkapan kembali mengalir, kali ini bahkan disertai dukungan pendanaan modal. Dari perhatian inilah lahir sebuah motif baru bertema bambu bernama Pring Sedapur, yang menggambarkan kondisi desa yang dipenuhi rumpun pohon bambu.
Motif Pring Sedapur kemudian dipadukan dengan beragam unsur lain seperti gunung, bulan, burung jalak, bunga-bunga, serta aneka binatang dan tumbuhan di sekitar Gunung Lawu. Perpaduan itu menjadikannya penanda khas Magetan, sebagaimana kerajinan Nusantara lain yang setia menyimpan identitas daerahnya, seperti tas rajut noken khas Suku Dani di Papua.
Batik Pring Sedapur membuktikan bahwa warisan yang nyaris hilang bisa hidup kembali ketika masyarakat menyadari nilai potensi lokalnya. Ingin menjelajahi lebih banyak kisah budaya dan tradisi Nusantara yang menyimpan makna mendalam seperti ini? Mari mulai percakapan dan temukan cerita menarik lainnya bersama hellowayang.com/chat.
Sumber
- Materi “Batik Magetan” — profil batik Desa Sidomukti, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan.
- Catatan sejarah perkembangan batik Desa Sidomukti: dari 1960-an, kemunduran 1975–1985, pembinaan Disperindag 1982, hingga kebangkitan awal 2000-an dan lahirnya motif Pring Sedapur.