Di banyak kebudayaan, pernikahan hanya menyatukan dua orang. Namun di Kepulauan Tanimbar, Maluku, sebuah pernikahan bisa menentukan siapa yang akan melindungi dan siapa yang akan mengabdi seumur hidup. Ikatan itu dikenal sebagai Duan dan Lolat, sebuah status sosial yang lahir dari perkawinan dan menjadi salah satu kearifan lokal paling menarik di tanah Tanimbar. Bukan sekadar aturan adat, Duan dan Lolat menyimpan filosofi mendalam tentang perlindungan, pengabdian, dan penghormatan terhadap perempuan.
Lahir dari Ikatan Perkawinan
Duan dan Lolat bukanlah kasta yang diwariskan sejak lahir, melainkan status sosial yang tercipta melalui hubungan perkawinan antarkeluarga di Tanimbar. Dalam pandangan masyarakat setempat, keluarga pihak perempuan berkedudukan sebagai Duan, yaitu pemilik sekaligus pemberi perempuan. Sementara pihak yang menerima perempuan itu disebut Lolat.
Artinya, ketika seorang laki-laki menikahi perempuan yang diberikan oleh Duan, maka ia bersama seluruh keluarganya secara otomatis menjadi Lolat bagi keluarga sang istri. Posisi Lolat ini melekat pada laki-laki yang dianggap siap bekerja dan membantu keluarga Duan, sehingga hubungan keduanya bukan sekadar besan, melainkan sebuah ikatan tanggung jawab yang berlangsung lama.
Duan, Sang Pelindung dan Pengayom
Dalam praktik adat, Duan tidak berdiri di atas Lolat untuk berkuasa, melainkan untuk mengayomi. Salah satu tugas utama Duan adalah memberi makan kepada Lolat sebagai wujud perlindungan dan pengayoman. Peran ini menegaskan bahwa kedudukan sebagai pemberi perempuan datang bersama kewajiban untuk menjaga.
Duan juga bertugas memberikan Tais, kain tenun khas Tanimbar, kepada anak-anak dari pihak Lolat, baik laki-laki maupun perempuan. Tais dipandang sebagai simbol Teter Lere atau pelindung, yang berfungsi menaungi anak Lolat dari hujan dan panas ketika mereka berada di tempat tinggal yang baru. Kain yang sama menjadi lambang kewibawaan dalam busana adat Tanimbar, sebagaimana dapat ditelusuri lebih jauh lewat kisah Tais dan Teik sebagai busana adat Tanimbar.
Lolat, Pengabdian yang Penuh Hormat
Jika Duan bertugas melindungi, maka Lolat memikul tanggung jawab untuk mengabdi. Bentuk pengabdian ini terlihat dalam hal-hal yang tampak sederhana namun sarat makna, seperti menuangkan Tuke dan Syingat, yakni tuak beserta penutup botolnya, saat acara minum bersama, hingga membagikan hidangan makanan kepada Duan.
Pengabdian Lolat kepada Duan bukan bentuk penghambaan yang merendahkan, melainkan cerminan rasa hormat. Lolat diharapkan menghargai, menuruti, serta memenuhi aturan dan permintaan Duan, sementara Duan dituntut membalasnya dengan perlindungan dan pengayoman. Keseimbangan timbal balik inilah yang menjaga keharmonisan hubungan kedua pihak.
Peran yang Saling Melengkapi
Dalam kehidupan masyarakat Tanimbar, Duan dan Lolat berjalan seperti dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Masing-masing memiliki peran yang jelas dan saling melengkapi: Duan berkewajiban mengayomi dan melindungi, sedangkan Lolat berkewajiban menghormati dan menaati. Tidak ada yang lebih tinggi secara mutlak, karena keduanya terikat dalam tanggung jawab yang timbal balik.
Struktur inilah yang membuat Duan dan Lolat lebih dari sekadar istilah kekerabatan. Ia menjadi sistem sosial yang menata bagaimana keluarga-keluarga di Tanimbar saling menopang, memastikan bahwa setiap pihak memiliki tempat, peran, dan kehormatannya sendiri di tengah masyarakat.
Penghormatan Tinggi kepada Perempuan
Yang membuat kearifan Duan dan Lolat begitu istimewa adalah akar filosofinya, yaitu pandangan masyarakat Tanimbar yang menempatkan perempuan pada posisi yang tinggi. Perempuan dipandang sebagai simbol pemberi kehidupan, dan justru dari perempuanlah keseluruhan sistem Duan dan Lolat ini bermula.
Karena keyakinan itu, kelahiran seorang anak perempuan dalam sebuah keluarga Tanimbar disambut dengan rasa syukur yang besar. Di tengah banyak budaya yang justru meminggirkan perempuan, Tanimbar menawarkan cara pandang yang berbeda: perempuan adalah sumber kehidupan yang layak dimuliakan, dan seluruh tatanan adat dibangun untuk menghormatinya.
Duan dan Lolat mengajarkan kita bahwa perlindungan, pengabdian, dan penghormatan bisa hidup berdampingan dalam satu tatanan adat yang utuh. Ingin menyelami lebih banyak kearifan lokal dan kekayaan budaya Nusantara lainnya? Ngobrol santai bareng Hellowayang di hellowayang.com/chat dan temukan cerita-cerita warisan leluhur yang belum banyak diketahui.
Sumber
- Materi kearifan lokal “Duan & Lolat” — tradisi status sosial perkawinan masyarakat Kepulauan Tanimbar, Maluku.