Test our Agent, Currently We are on Alpha↗
Hellowayang Hellowayang WIB
← Kembali ke Semua Artikel
Kuliner Nusantara

Kapurut Sagu: Cemilan & Makanan Pokok Suku Mentawai

Tanggal Terbit
31 Juli 2026
Waktu Baca
3 Menit
Kategori
Kuliner Nusantara
Penulis
Tim Hellowayang

Di antara deburan ombak Samudra Hindia dan rimbunnya hutan Kepulauan Mentawai, ada satu sajian sederhana yang menyimpan seluruh cerita tentang cara hidup masyarakatnya: kapurut sagu. Dibuat hanya dari sagu yang dibungkus daun lalu dibakar, olahan ini bisa menjadi teman ngopi di sore hari sekaligus pengganti nasi di meja makan. Sederhana dalam wujud, tetapi begitu dalam maknanya bagi Suku Mentawai.

Apa Itu Kapurut Sagu?

Kapurut sagu adalah olahan berbahan dasar sagu yang dipadukan dengan bahan pelengkap lain, salah satunya parutan kelapa. Nama makanan ini sendiri sudah menjelaskan sosoknya. Dalam bahasa setempat, “kapurut” berarti bungkus, sehingga kapurut sagu secara harfiah bermakna sagu yang dibungkus.

Penamaan itu bukan sekadar istilah, melainkan gambaran langsung dari cara sajian ini dibuat dan disajikan. Sagu yang dibalut rapat oleh daun menjadi ciri khas yang membedakannya dari olahan sagu di daerah lain, sekaligus menjadikannya identitas kuliner masyarakat Mentawai.

Sagu ‘Khusus’ dan Cara Membuatnya

Proses membuat kapurut sagu tergolong sangat sederhana. Tepung sagu terlebih dahulu disaring agar tidak menggumpal, lalu dibungkus dengan daun sagu, dan setelah itu dibakar. Cukup beberapa menit di atas bara, bungkusan itu diangkat, dibuka, dan isinya siap disantap selagi hangat.

Kuncinya justru ada pada bahan bakunya. Sagu yang dipakai untuk sajian tradisional ini bukan sembarang sagu, melainkan sagu yang teksturnya sudah mengeras dan berwarna cokelat. Pilihan bahan inilah yang membuat kapurut sagu memiliki karakter rasa dan tekstur yang khas, meski cara pengolahannya nyaris tanpa peralatan rumit.

Asin atau Tawar: Dua Wajah Kapurut Sagu

Berdasarkan rasanya, kapurut sagu terbagi menjadi dua jenis, yaitu asin dan tawar. Versi asin biasanya hadir sebagai menu sarapan atau cemilan pendamping secangkir kopi di sore hari. Perannya lebih santai, mengisi jeda dan menemani momen bersantai warga.

Sementara itu, kapurut sagu tawar menempati posisi yang lebih serius di meja makan. Jenis ini umumnya dijadikan makanan utama pengganti nasi, sehingga paling cocok disantap berpadu dengan lauk atau sayuran. Dari satu bahan yang sama, masyarakat Mentawai bisa menghadirkan dua peran berbeda, dari camilan ringan hingga hidangan pokok.

Sagu, Denyut Pangan Kepulauan Mentawai

Kebiasaan menjadikan sagu sebagai bahan pangan pengganti nasi cukup populer di Kepulauan Mentawai. Bagi banyak keluarga, sagu bukan sekadar alternatif ketika beras langka, melainkan sumber karbohidrat yang memang lekat dengan pola makan sehari-hari, tumbuh melimpah di sekitar tempat tinggal mereka.

Ketergantungan yang sehat pada sagu ini mencerminkan hubungan erat antara masyarakat Mentawai dan alamnya. Kekayaan pangan lokal semacam ini melengkapi ragam warisan budaya Nusantara yang juga terasa di daratan besar provinsinya, seperti tradisi kerajinan dan seni di Sumatra Barat.

Hidangan Sederhana yang Istimewa

Kapurut sagu ternyata tidak berhenti pada urusan mengisi perut sehari-hari. Dalam kehidupan masyarakat Mentawai, olahan ini juga muncul dalam perayaan-perayaan adat maupun keagamaan, menjadi bagian dari momen yang dianggap penting dan sakral.

Di sinilah letak keistimewaannya. Bagi Suku Mentawai, kapurut sagu adalah olahan yang sangat spesial meski dibuat dengan cara yang begitu sederhana. Ia membuktikan bahwa nilai sebuah makanan tidak selalu diukur dari kerumitan resep, melainkan dari peran dan makna yang dibawanya di tengah masyarakat.

Kapurut sagu mengajarkan bahwa kesederhanaan bisa menyimpan kekayaan budaya yang luar biasa. Jika kamu ingin menyusuri lebih jauh cerita kuliner dan tradisi dari berbagai penjuru Nusantara, atau sekadar bertanya tentang destinasi dan warisan budaya Indonesia, mulai obrolanmu bersama kami di hellowayang.com/chat dan temukan pesona negeri ini dari dekat.

Sumber

  • Dokumentasi kuliner tradisional Suku Mentawai — “Kapurut Sagu, Cemilan Sekaligus Makanan Pokok Suku Mentawai”, Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat.
ChatGPT nebak. Hellowayang ngutip.

Jawaban Real-Time, Selalu dengan Sumbernya

Tanya apa saja tentang Indonesia — regulasi, budaya, data ekonomi — dan dapatkan jawaban real-time dengan sumbernya. Gratis untuk mulai.

Mulai Chat Gratis →