Jauh sebelum Indonesia berdiri, sebuah kerajaan dari Sumatra menguasai salah satu jalur laut tersibuk di dunia. Sriwijaya — kerajaan maritim bercorak Buddha yang berpusat di sekitar Palembang — menjadi imperium dagang terbesar di Nusantara, mengendalikan Selat Malaka dan Selat Sunda selama hampir tujuh abad.
Kerajaan yang Besar dari Lautan
Kebesaran Sriwijaya tidak lahir dari hutan atau tanahnya, melainkan dari kegiatan orang-orangnya di lautan. Muncul dalam sejarah pada paruh kedua abad ke-7 dan runtuh pada akhir abad ke-14, Sriwijaya maju dalam perniagaan laut. Dari pantai-pantai Sumatra, kerajaan ini mengawasi Selat Malaka dan Selat Sunda — dua jalur laut yang menghubungkan Samudra Hindia dengan Laut Cina Selatan dan perairan Nusantara.
Sungai Musi, Sumber Keberuntungan
Lokasi Sriwijaya yang dekat dengan Sungai Musi membawa keberuntungan besar. Kerajaan ini terdiri atas tiga zona: ibukota muara yang berpusat di Palembang, lembah Sungai Musi sebagai daerah pendukung, serta daerah muara saingan. Wilayah hulu Musi kaya komoditas berharga seperti kayu, resin aromatik, dan rempah-rempah yang sangat diminati pedagang Tiongkok.
Pusat Perdagangan Internasional
Letak geografis Sriwijaya yang strategis di tengah jalur pelayaran India–Cina membuatnya berperan besar dalam perdagangan internasional. Dari Cina datang porselen dan kain sutra; dari Nusantara mengalir kemenyan, kayu cendana, dan kapur barus yang sangat digemari orang Cina untuk upacara keagamaan dan wewangian. Bandar Sriwijaya menjadi tempat bertemunya barang dari seluruh Nusantara dan mancanegara.
Politik Perluasan Wilayah
Untuk menguasai lalu lintas dagang di Selat Malaka, Sriwijaya menjalankan politik perluasan wilayah. Prasasti Kota Kapur di Pulau Bangka (686 M) mencatat ekspansi ke Pulau Jawa — menaklukkan Kerajaan Tarumanagara. Sriwijaya juga menguasai Melayu (Jambi hulu) sebagaimana tercatat dalam Prasasti Karang Brahi. Secara garis besar, kerajaan ini berhasil menguasai belasan kota yang dulunya merupakan pesaingnya.
Prasasti dan Peninggalan
Jejak Sriwijaya terekam dalam sejumlah prasasti berbahasa Melayu Kuno: Prasasti Kedukan Bukit (682 M) yang mengisahkan perjalanan Dapunta Hyang, Prasasti Talang Tuo (648 M) tentang pembuatan Taman Sriksetra, serta Prasasti Kota Kapur dan Telaga Batu yang berisi kutukan bagi pemberontak. Di tepian Sungai Batang Hari juga berdiri kompleks percandian Buddha Muara Jambi, salah satu yang terbesar di Indonesia.
Runtuhnya Sang Imperium
Kemunduran Sriwijaya datang dari dua arah: persaingan dengan penguasa Jawa dan serangan Kerajaan Chola dari India. Serangan Chola pada 1024–1025 M melemahkan banyak pos penting Sriwijaya, dari Palembang hingga Kedah. Ditambah pendangkalan pantai dan Sungai Musi yang menyurutkan arus perdagangan, dominasi Sriwijaya perlahan pudar hingga akhirnya runtuh.
Ingin menelusuri sejarah dan budaya Nusantara lebih dalam — dengan jawaban yang bisa ditelusuri sumbernya? Tanyakan langsung di hellowayang.com/chat.
Sumber
- Knowledge base sejarah Hellowayang — dikurasi dari repositori sejarah dan literatur Nusantara
- H. Budisantoso S., “Sriwijaya Kerajaan Maritim Terbesar Pertama di Nusantara” (2006)
- I Nyoman Bayu Pramartha, “Pengaruh Geohistoris Pada Kerajaan Sriwijaya” (2017)