Di Pulau Jawa, salah satu kerajaan tertua di Nusantara pernah berdiri megah di tepi Sungai Citarum. Kerajaan Tarumanagara — kerajaan bercorak Hindu aliran Wisnu — mencapai puncak kejayaannya di bawah seorang raja yang gagah berani: Purnawarman.
Asal Nama dan Berdirinya
Nama Tarumanagara berasal dari kata Tarum — nama sungai yang membelah Jawa Barat, kini bernama Citarum — dan Nagara yang berarti negara atau kerajaan. Menurut Naskah Wangsakerta, kerajaan ini didirikan oleh Rajadirajaguru Jayasingawarman pada tahun 358 Masehi, dan berkembang dari abad ke-4 hingga abad ke-7 Masehi. Berdasarkan Prasasti Tugu, pada tahun 417 M wilayahnya meliputi Banten, Jakarta, Bogor, dan Cirebon.
Kehidupan Ekonomi dan Kanal Gomati
Perekonomian masyarakat Tarumanagara bertumpu pada pertanian, peternakan, dan perdagangan — didukung letaknya yang strategis dekat Selat Sunda. Prasasti Tugu mencatat pembangunan saluran Gomati sepanjang belasan kilometer yang selesai hanya dalam 21 hari, berfungsi sebagai sarana pengairan sekaligus pencegah banjir — bukti kepedulian raja terhadap kesejahteraan rakyat.
Kejayaan di Era Raja Purnawarman
Purnawarman diwisuda sebagai raja ketiga Tarumanagara pada 12 Maret 395 M dan memerintah sekitar 39 tahun. Prasasti Ciaruteun menggambarkannya sebagai “raja yang gagah berani di dunia”, sementara Prasasti Jambu menyebut baju zirahnya yang konon tak tertembus senjata musuh. Di masanya, emas dan perak menjadi komoditas dagang utama kerajaan.
Prasasti Peninggalan
Eksistensi Tarumanagara dibuktikan oleh tujuh prasasti utama: Ciaruteun, Kebon Kopi, Tugu, Jambu, Lebak (Cidanghiang), Muara Cianten, dan Pasir Awi. Banyak di antaranya memuat tapak kaki Raja Purnawarman sebagai simbol kekuasaan, serta pujian atas keperwiraannya.
Runtuhnya Tarumanagara
Berita Cina dari Dinasti Tang mencatat bahwa setelah tahun 669 M, Tarumanagara tak lagi mengirim utusan ke Cina. Ini bersesuaian dengan Prasasti Kota Kapur (686 M) yang menyebut serangan Sriwijaya ke “bhumi jawa” yang menolak tunduk. Setelah runtuh, Jawa Barat berada di bawah pengaruh Sriwijaya, dan nama “Sunda” baru muncul kembali dalam prasasti abad ke-10.
Ingin menelusuri sejarah dan budaya Nusantara lebih dalam — dengan jawaban yang bisa ditelusuri sumbernya? Tanyakan langsung di hellowayang.com/chat.
Sumber
- Knowledge base sejarah Hellowayang — dikurasi dari repositori sejarah dan literatur Nusantara
- Naskah Wangsakerta, Cirebon
- Ahmad Surachmad & Iis Purnengsih, “Perancangan Karakter Purnawarman … Kerajaan Tarumanagara” (2018)