Siapa yang tidak mengenal Jam Gadang? Menara jam ikonik di pusat Kota Bukittinggi ini bukan sekadar penunjuk waktu, melainkan juga saksi bisu perjalanan sejarah Sumatera Barat. Dengan arsitektur khas dan beragam kisah unik di baliknya, Jam Gadang terus memikat wisatawan dari berbagai penjuru.
Sejarah Singkat dan Pembangunan Jam Gadang
Jam Gadang dibangun pada tahun 1926 hingga 1927 sebagai hadiah dari Ratu Belanda untuk Rook Maker, sekretaris atau controleur Fort de Kock—sebutan lama Kota Bukittinggi pada masa Hindia Belanda. Perancang menara jam ini adalah Yazid Rajo Mangkuto, seorang saudagar Minangkabau yang hidup pada era kolonial. Kehadirannya tidak hanya mempercantik kota, tetapi juga menjadi simbol pertemuan budaya dan sejarah.
Perubahan Bentuk Atap dari Masa ke Masa
Sejak pertama kali berdiri, Jam Gadang telah mengalami beberapa kali renovasi atap. Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, atapnya berbentuk bulat dengan patung ayam jantan yang menghadap ke arah timur. Ketika Jepang menduduki Indonesia, atap tersebut diubah menjadi bentuk pagoda. Setelah kemerdekaan, atapnya kembali diubah menjadi gonjong, menyerupai atap rumah adat Minangkabau, Rumah Gadang. Renovasi terakhir dilakukan pada tahun 2010 dan diresmikan bertepatan dengan ulang tahun Kota Bukittinggi ke-262 pada 22 Desember 2010.
Biaya Pembangunan dan Status sebagai Markah Tanah
Pembangunan Jam Gadang konon menelan biaya sekitar 3.000 Gulden, jumlah yang sangat fantastis pada zamannya. Tidak mengherankan apabila setelah berdiri kokoh, menara ini dijadikan sebagai markah tanah sekaligus titik nol Kota Bukittinggi. Posisinya yang strategis di pusat kota menjadikannya acuan utama bagi warga dan pengunjung.
Misteri Angka Empat Romawi IIII
Salah satu keunikan Jam Gadang yang paling banyak dibicarakan adalah penulisan angka empat pada jamnya. Alih-alih menggunakan simbol Romawi IV, angka empat di Jam Gadang ditulis sebagai IIII. Keanehan ini memicu berbagai tafsir di kalangan masyarakat.
Sebagian warga percaya bahwa IIII sengaja dibuat untuk mengenang empat pekerja yang meninggal akibat kecelakaan saat pembangunan. Pendapat lain menyebut angka IV dihindari karena dianggap sebagai singkatan ‘I Victory’ yang berarti ‘aku menang’, sehingga dikhawatirkan bisa memicu pemberontakan terhadap penjajah. Sementara itu, sejumlah ahli sejarah menyatakan bahwa bentuk IIII memang lazim digunakan dalam penulisan angka Romawi kuno sebelum akhirnya digantikan IV. Hingga kini, belum ada kesepakatan tentang tafsir mana yang paling benar.
Daya Tarik Jam Gadang sebagai Ikon Wisata
Berkat nilai sejarah dan arsitekturnya yang unik, Jam Gadang menjadi magnet utama wisatawan yang berkunjung ke Bukittinggi. Kawasan di sekitarnya selalu ramai, terutama pada sore hingga malam hari. Dari menara ini, pengunjung dapat menikmati suasana kota yang sejuk serta berburu kuliner khas Minang di sekitarnya.
Sudah saatnya kamu merencanakan perjalanan ke Bukittinggi dan menyaksikan langsung pesona Jam Gadang. Untuk informasi lebih lengkap seputar destinasi wisata dan budaya Nusantara, jangan ragu untuk bertanya melalui hellowayang.com/chat.
Sumber
- Sejarahlengkap.com — Menelaah Keunikan Jam Gadang
- Bukittinggikota.go.id — Informasi resmi Kota Bukittinggi