Solo atau Surakarta menyimpan lapisan cerita yang jauh lebih dalam daripada sekadar kota transit di jantung Jawa Tengah. Di sini, sebuah nama pasar bisa menyembunyikan hitungan tahun kekuasaan raja, sebuah kampung batik lahir dari keturunan penguasa Majapahit, dan sebuah candi kuno pernah dirombak oleh orang dekat presiden. Dari los penjual barang antik sampai lereng Gunung Lawu, mari menyusuri empat penggal warisan yang membuat Solo begitu istimewa.
Pasar Antik Triwindu dan Rahasia di Balik Namanya
Pasar Triwindu adalah peninggalan Praja Mangkunegaran, tepatnya dari masa Mangkunegara VII yang mulai bertakhta pada tahun 1916. Namanya sendiri menyimpan teka-teki angka: kata “Triwindu” tersusun dari “tri” yang berarti tiga dan “windu” yang merupakan hitungan delapan tahun. Digabungkan, tiga windu berarti dua puluh empat tahun — sebuah penanda untuk memperingati dua puluh empat tahun pemerintahan sang penguasa Mangkunegaran.
Sejak 1966, barang yang diperjualbelikan di pasar ini makin beragam, mulai dari benda-benda antik hingga bercampur dengan onderdil kendaraan bermotor. Wajahnya berubah setelah dipugar pada 2008. Kini pengunjung bisa berkeliling dengan lebih nyaman karena tersedia lahan parkir dan los para pedagang yang sudah ditata rapi, menjadikannya surga bagi para pemburu barang lawas.
Kampung Batik Laweyan, Warisan Keturunan Raja
Nama Laweyan tidak muncul begitu saja. Ia diambil dari Kyai Ageng Henis, yang juga dikenal sebagai Kyai Ageng Laweyan — seorang keturunan Raja Brawijaya V yang bermukim di kawasan tersebut pada tahun 1546 Masehi. Dari akar sejarah inilah kampung batik yang legendaris itu tumbuh dan berkembang menjadi salah satu pusat perbatikan tertua di tanah Jawa.
Batik Laweyan mewakili tradisi batik pedalaman keraton dengan corak dan filosofinya sendiri, berbeda dengan semangat batik pesisir yang tampil dengan warna-warna berani dari pantai utara Jawa. Menyusuri gang-gang sempit Laweyan yang berdinding tembok tinggi, pengunjung seolah diajak kembali ke masa ketika para saudagar batik memegang kendali roda ekonomi kota.
Candi Cetho, Punden Berundak di Lereng Lawu
Naik ke ketinggian lereng Gunung Lawu, Candi Cetho menanti dengan aura sakral yang khas. Pemugaran pertamanya dilakukan pada tahun 1970 oleh Sudjono Humardani, sosok yang dahulu menjabat sebagai asisten Suharto. Dalam proses itu, ia mengubah total struktur asli candi, meski konsep punden berundak yang menjadi ciri khasnya tetap dipertahankan.
Jejak perombakan inilah yang membuat wajah Candi Cetho hari ini berbeda dari bentuk aslinya, sekaligus menjadi catatan menarik tentang bagaimana situs kuno diperlakukan pada masanya. Kendati demikian, undakan-undakan yang menanjak ke puncak tetap memancarkan nuansa spiritual yang membuat banyak peziarah dan wisatawan datang berkunjung.
Brigjen Slamet Rijadi, Putra Solo di Medan Perjuangan
Solo juga melahirkan seorang pahlawan bernama Brigadir Jenderal Slamet Rijadi, yang lahir pada 26 Juli 1927 di Surakarta. Namanya harum karena keberaniannya di garis depan perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Pada 1947, ia berjasa merebut Ambarawa dan Semarang dari cengkeraman Belanda.
Perjuangannya tidak berhenti di Jawa. Pada 10 Juli 1950, Slamet Rijadi melanjutkan pengabdiannya dengan turut merebut Ambon dari tangan Belanda. Kisah hidupnya menjadi pengingat bahwa Kota Solo bukan hanya soal budaya dan seni, melainkan juga tempat lahirnya tokoh-tokoh yang mengukir sejarah bangsa.
Dari pasar antik, kampung batik, candi purba, hingga jejak sang jenderal — Solo adalah kota yang layak dijelajahi lapis demi lapis. Ingin merancang rute perjalanan budayamu sendiri atau menggali cerita di balik tiap sudut Nusantara? Ngobrol langsung bersama Hellowayang di hellowayang.com/chat dan mulailah petualanganmu.
Sumber
- Materi internal Hellowayang — “Jalan Bareng HW: Solo” (Pasar Antik Triwindu, Kampung Batik Laweyan, Candi Cetho, dan Brigjen Slamet Rijadi)