Test our Agent, Currently We are on Alpha↗
Hellowayang Hellowayang WIB
← Kembali ke Semua Artikel
Sejarah & Kerajaan

Museum Wayang: Bekas Gereja Belanda yang Menyimpan Makam JP Coen

Tanggal Terbit
16 Juli 2026
Waktu Baca
3 Menit
Kategori
Sejarah & Kerajaan
Penulis
Tim Hellowayang

Di jantung Kota Tua Jakarta berdiri sebuah bangunan yang kini dipenuhi ratusan boneka wayang dari seluruh Nusantara. Namun jauh sebelum menjadi museum, gedung ini pernah menjadi gereja Belanda, runtuh diguncang gempa, berubah jadi gudang dagang, hingga menyimpan jejak makam gubernur VOC paling ditakuti. Inilah kisah panjang bangunan Museum Wayang yang usianya jauh lebih tua dari koleksinya.

Berawal dari Gereja Tua Belanda pada 1640

Riwayat bangunan ini dimulai pada tahun 1640, saat pemerintah kolonial mendirikan sebuah rumah ibadah bernama De Oude Hollandsche Kerk atau Gereja Lama Belanda. Hampir satu abad kemudian, tepatnya pada 1732, gereja itu diperbaiki dan berganti nama menjadi Nieuwe Hollandse Kerk alias Gereja Baru Belanda.

Sayangnya usia bangunan tersebut tidak berlangsung mulus. Pada 1808 gedung gereja itu runtuh akibat guncangan gempa bumi, dan lokasi itu praktis kehilangan wujud aslinya selama lebih dari satu abad berikutnya.

Bangkit Kembali dengan Gaya Neo Renaissance

Barulah pada 1912 bangunan itu dirombak habis-habisan dan diberi wajah baru bergaya arsitektur Belanda Neo Renaissance. Fungsinya pun bergeser jauh dari peruntukan awal: gedung ini dipakai sebagai gudang milik perusahaan dagang Geo Wehry & Co.

Nilai sejarahnya mulai diakui secara resmi pada 14 Agustus 1936, ketika pemerintah kolonial menetapkan bangunan tersebut sebagai monumen. Setahun berikutnya, pada 1937, gedung diserahkan kepada Stichting Oud Batavia dan diubah menjadi museum bernama De Oude Bataviasche Museum, atau Museum Batavia Lama.

Berganti Nama Berkali-kali hingga Diresmikan Ali Sadikin

Perjalanan nama gedung ini terbilang berliku. Pada 22 Desember 1939, atas keputusan gubernur Belanda terakhir Tjarda van Starkenborgh, bangunan resmi difungsikan sebagai Museum Batavia Lama. Setelah Indonesia merdeka, tepatnya pada 1957, pengelolaannya diserahkan kepada Lembaga Kebudayaan Indonesia (LKI) dan namanya diubah menjadi Museum Jakarta Lama, lalu disingkat menjadi Museum Jakarta pada 1 Agustus 1960.

Estafet pengelolaan terus berlanjut. Pada 17 September 1962, LKI menyerahkannya kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, dan pada 23 Juni 1968 gedung berpindah tangan lagi ke Pemerintah DKI Jakarta yang menjadikannya kantor Dinas Museum dan Sejarah. Puncaknya, pada 13 Agustus 1975, Gubernur Ali Sadikin meresmikan pemakaian gedung ini sebagai Museum Wayang seperti yang kita kenal hari ini.

Makam JP Coen, Sang “Mur Jangkung”

Salah satu jejak paling menarik di kompleks ini adalah kaitannya dengan Jan Pieterszoon Coen alias JP Coen, gubernur jenderal VOC yang menjabat dua periode, yaitu 1618–1623 dan 1627–1629. Lahir di Hoorn, Noord-Holland, pada 1568, ia dikenal sebagai pemimpin VOC yang menaklukkan Jakarta. Ia membumihanguskan Jayakarta pada 30 Mei 1619 dan menggantinya dengan nama Batavia, kota yang kelak dijuluki “Queen of the East” dari 1619 hingga 1942.

Konon jasad tokoh yang oleh masyarakat lokal dijuluki “Mur Jangkung” itu mula-mula dimakamkan di Stadhuis, kini Museum Sejarah Jakarta, lalu dipindahkan ke bekas De Oude Hollandsche Kerk yang sekarang menjadi Museum Wayang. Sebagian sejarawan meyakini makamnya masih berada di Museum Sejarah Jakarta, sementara yang lain berpendapat sudah berpindah ke Museum Wayang, sehingga keberadaannya tetap menyisakan perdebatan.

Misteri Kematian dan Serbuan Sultan Agung

JP Coen meninggal pada 21 September 1629 dan kematiannya menyimpan setidaknya dua versi. Versi pertama menyebut ia tewas karena wabah kolera atau muntah darah, sementara versi kedua mengaitkannya dengan serangan bala tentara Sultan Agung dari Mataram. Ada pula versi gabungan yang menduga ia terjangkit kolera yang sengaja disebarkan pasukan Mataram di aliran Sungai Ciliwung.

Serbuan itu bukan isapan jempol. Sultan Agung pertama kali menyerang Batavia pada Oktober 1628, lalu melancarkan serangan kedua pada 1629. Pasukan pertama dipimpin Adipati Ukur yang berangkat pada Mei 1629, disusul pasukan kedua di bawah komando Adipati Juminah yang bergerak pada Juni 1629, dengan total kekuatan mencapai sekitar 14.000 prajurit.

Bangunan Museum Wayang membuktikan bahwa satu tembok tua bisa menyimpan lapisan sejarah yang berlapis-lapis, dari gereja, gudang, hingga saksi bisu perebutan Batavia. Ingin menggali cerita sejarah dan budaya Nusantara lain yang sama menariknya? Ngobrol saja dengan asisten budaya kami di hellowayang.com/chat dan temukan kisah-kisah yang jarang diceritakan.

Sumber

  • Dinas Kebudayaan DKI Jakarta — Museum Wayang: https://dinaskebudayaan.jakarta.go.id/disbud_museum/news_web/detailnews/museum-wayang
  • MuseumJakarta.com — Museum Wayang Jakarta: https://www.museumjakarta.com/museum-wayang-jakarta/
  • Sindonews — Misteri Kematian Jan Pieterszoon Coen: https://daerah.sindonews.com/berita/1577119/29/misteri-kematian-jan-pieterszoon-coen-dari-wabah-kolera-sampai-tangga-makam-imogiri
ChatGPT nebak. Hellowayang ngutip.

Jawaban Real-Time, Selalu dengan Sumbernya

Tanya apa saja tentang Indonesia — regulasi, budaya, data ekonomi — dan dapatkan jawaban real-time dengan sumbernya. Gratis untuk mulai.

Mulai Chat Gratis →