Di ujung tenggara Pulau Sulawesi, ada satu provinsi yang menyimpan kekayaan mulai dari dasar laut hingga helai kain tenun. Sulawesi Tenggara memadukan surga bawah laut kelas dunia dengan warisan kriya yang lahir dari tradisi berabad-abad — dari gugusan karang Wakatobi, motif batik yang mengabadikan hewan buruan, hingga tudung saji langka dari Buton. Mari menyusurinya satu per satu.
Wakatobi, Empat Pulau Penjaga Karang
Nama Wakatobi sebenarnya adalah rangkaian dari empat pulau utamanya: Wangi-wangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko. Karena letaknya yang jauh dan terpencil di tenggara Sulawesi, perairan di sekitarnya nyaris tak tersentuh dan tetap terjaga hingga kini. Di bawah permukaannya, karang keras maupun lunak tumbuh rapat dalam beragam warna, ditemani hewan-hewan pelagis seperti lumba-lumba serta beberapa jenis paus yang sesekali melintas.
Luasnya bukan main — kawasan seluas 1,39 juta hektar ini ditetapkan sebagai taman nasional laut pada 1996. Statusnya kemudian menguat ketika Wakatobi disahkan menjadi kabupaten tersendiri pada 2004, menegaskan posisinya sebagai salah satu pusat konservasi bahari kebanggaan Nusantara.
Batik Motif Jonga, Jejak Tradisi Berburu Rusa
Kalau kebanyakan batik menampilkan bunga atau sulur, Sulawesi Tenggara punya motif yang lebih membumi: jonga. Digambarkan sebagai rusa bertanduk lima, motif ini merekam kebiasaan lama masyarakat setempat yang gemar berburu. Jonga sendiri adalah hewan khas Sultra yang sejak dulu menjadi sasaran perburuan warga, sehingga kehadirannya di atas kain bukan sekadar hiasan, melainkan potret gaya hidup yang diwariskan turun-temurun.
Cara mengabadikan fauna lokal dalam corak kain seperti ini juga bisa kita temui di daerah lain, misalnya pada Batik Cendrawasih dari Papua. Keduanya menunjukkan bagaimana setiap daerah menjadikan satwa kebanggaannya sebagai identitas visual yang dikenakan sehari-hari.
Tenun Tolaki dan Kilau Benang Emasnya
Beralih dari batik ke tenunan, Sulawesi Tenggara punya Tenun Tolaki sebagai kain khasnya. Ciri paling menonjol dari motif Tolaki adalah benang emas yang ditata membentuk garis-garis halus, lalu dibubuhi aksen bunga-bunga kecil sebagai pemanis.
Palet warnanya pun punya karakter tersendiri, memadukan oranye terang, abu-abu, biru tua, kuning susu, hijau lumut, hingga merah pudar. Perpaduan warna hangat dan teduh ini membuat Tenun Tolaki terasa lembut sekaligus mewah saat dikenakan.
Panamba, Tudung Saji Langka dari Buton
Di antara ragam kriya Sulawesi Tenggara, panamba mungkin yang paling jarang terdengar. Kerajinan khas Buton ini berupa tudung saji, dan sayangnya perajinnya kini tinggal sedikit. Untuk menemukannya, kita mesti menyambangi Kelurahan Melai, Kecamatan Murhum, di Kota Baubau.
Meski tak sepopuler kerajinan lain, panamba punya peran khusus. Masyarakat Buton biasa memakainya sebagai penutup talang dalam acara-acara adat, salah satunya tradisi pekakande-kandea. Bahannya berasal dari daun tua yang dirajut dengan telaten hingga menjelma menjadi karya yang halus dan memikat.
Dari karang Wakatobi hingga rajutan panamba, Sulawesi Tenggara membuktikan bahwa keindahannya tak berhenti di pemandangan, tetapi hidup dalam setiap kerajinan tangan warganya. Ingin merancang rute perjalanan atau menggali lebih dalam soal budaya Nusantara lainnya? Ngobrol saja bareng asisten Hellowayang di hellowayang.com/chat dan temukan inspirasi jelajahmu berikutnya.
Sumber
- Materi Jalan Bareng Hellowayang: Sulawesi Tenggara
- Balai Taman Nasional Wakatobi — profil kawasan dan sejarah penetapan taman nasional laut
- Dokumentasi kriya Sulawesi Tenggara: batik motif jonga, Tenun Tolaki, dan tudung saji panamba Buton