Test our Agent, Currently We are on Alpha↗
Hellowayang Hellowayang WIB
← Kembali ke Semua Artikel
Sejarah & Kerajaan

Menelisik Sejarah Pulau Onrust: dari Galangan VOC hingga Cagar Budaya

Tanggal Terbit
7 Agustus 2026
Waktu Baca
3 Menit
Kategori
Sejarah & Kerajaan
Penulis
Tim Hellowayang

Di antara gugusan Kepulauan Seribu, Pulau Onrust menyimpan sejuta cerita. Bukan hanya pantai berpasir, pulau ini menjadi saksi bisu perjalanan bangsa: dari galangan kapal VOC, benteng pertahanan, hingga karantina jemaah haji. Kini, pulau seluas 12 hektar itu berdiri sebagai cagar budaya yang sayang untuk dilewatkan.

Awal Mula Pulau Onrust: Titik Perdagangan dan Galangan VOC

Sebelum kedatangan Belanda, beberapa pulau di Teluk Jakarta termasuk Onrust telah dimanfaatkan sebagai tempat beristirahat oleh keluarga Kesultanan Banten pada abad ke-16. Baru pada 1610, VOC meminta izin kepada Pangeran Jayakarta untuk mengambil kayu guna pembuatan kapal. Kesepakatan itu membuka jalan bagi Belanda untuk membangun galangan kapal dan menandai babak baru sejarah pulau ini.

Izin resmi penggunaan pulau seluas 12 hektar dan berjarak sekitar 14 km dari daratan diberikan langsung oleh Pangeran Jayakarta untuk perbaikan kapal-kapal VOC yang kerap rusak setelah perjalanan jauh. Dari sanalah nama Onrust mulai dikenal, yang berarti ‘tanpa istirahat’ atau ‘selalu sibuk’ dalam bahasa Belanda, menggambarkan aktivitas galangan yang tak pernah sepi.

Pembangunan Benteng, Kincir Angin, dan Dominasi VOC

Di bawah pimpinan Gubernur Jan Pieterszoon Coen pada 1613, Pulau Onrust dijadikan koloni kecil dengan mengirimkan keluarga-keluarga Tionghoa untuk bekerja dan tinggal. Dua tahun berselang, ketika ancaman dari Banten dan Inggris memuncak, Coen mengerahkan 15 kapal perang ke pulau ini dan membangun benteng kecil berbentuk segi empat dengan dua bastion.

Benteng itu terus diperkuat hingga menjadi segi lima pada 1671, dilengkapi bastion di setiap sudut. Pembangunan berlanjut dengan sebuah kincir angin pada 1674, serta gudang-gudang komoditas. Hingga puncaknya, pulau ini dihuni sekitar 148 abdi kompeni dan 200 budak, menjadi pusat vital pertahanan dan logistik VOC.

Masa Kelam: Serangan, Letusan Gunung, dan Alih Fungsi

Kekuasaan VOC berakhir tatkala Inggris menduduki Pulau Onrust pada 1800 di bawah H.C. Balldan dan meratakan bangunannya. Namun Belanda kembali menyusun rencana pembangunan oleh D.M. Barbier tiga tahun kemudian. Sayangnya, periode 1806–1810 diwarnai saling serang antara dua kekuatan kolonial tersebut.

Usaha pembangunan baru benar-benar dimulai Gubernur Jenderal G.A. Baron van der Capellen pada 1828, tapi musibah datang: letusan dahsyat Gunung Krakatau pada 1883 menghancurkan sebagian besar fasilitas di pulau. Di tengah sejarah itu, mitos Pulau Onrust seperti cerita terowongan bawah laut dan harta karun VOC, turut menjadi daya tarik tersendiri.

Era Karantina Haji: Barak, Rumah Sakit, dan Pemakaman

Memasuki abad ke-20, tepatnya 1911–1933, Pulau Onrust beralih fungsi menjadi tempat karantina jemaah haji. Pemerintah Hindia Belanda khawatir akan penyebaran penyakit menular dari Timur Tengah, maka dibangunlah barak-barak besar yang mampu menampung hingga 3.500 orang. Setiap jemaah wajib menjalani karantina selama kurang lebih lima hari sebelum pulang ke daerah asal.

Fasilitas karantina ini juga dilengkapi rumah sakit dengan dokter dan staf medis. Apabila ada yang meninggal, jenazahnya dibawa dengan Kapal Onrust menuju Pulau Sakit (kini Pulau Bidadari) atau Pulau Kelor untuk dimakamkan. Jejak sejarah itu masih bisa ditemukan hingga kini.

Dari Penjara Jepang Hingga Cagar Budaya

Masa pendudukan Jepang menjadikan Onrust sebagai kamp tahanan bagi pemberontak Peristiwa Zeven Provinciën pada 1933, lalu pada 1940 untuk warga sipil Jerman dan simpatisannya. Setelah kemerdekaan, pulau ini dipakai sebagai rumah sakit karantina penyakit menular (1960–1965) dan penampungan gelandangan, hingga akhirnya terbengkalai pasca-penjarahan besar pada 1968.

Upaya pelestarian dimulai tahun 1972 melalui SK Gubernur DKI Jakarta yang menetapkannya sebagai bangunan bersejarah yang dilindungi. Puncaknya, pada 2015, Pulau Onrust bersama Pulau Cipir, Kelor, dan Bidadari resmi menjadi kawasan cagar budaya. Kini, Museum Kebaharian Jakarta mengelola situs ini sebagai destinasi wisata sejarah.

Masih banyak cerita menarik dari Pulau Onrust yang menanti untuk digali. Jika Anda ingin tahu lebih dalam atau berbagi pengalaman, jangan ragu untuk menghubungi kami melalui hellowayang.com/chat. Tim Hello Wayang siap menemani petualangan sejarah Anda!

Sumber

  • Dokumentasi Hello Wayang, ‘Meniti Sejarah Pulau Onrust’.
ChatGPT nebak. Hellowayang ngutip.

Jawaban Real-Time, Selalu dengan Sumbernya

Tanya apa saja tentang Indonesia — regulasi, budaya, data ekonomi — dan dapatkan jawaban real-time dengan sumbernya. Gratis untuk mulai.

Mulai Chat Gratis →