Hanya berlangsung sekitar enam jam, tetapi gaungnya sampai ke meja perundingan dunia. Pada pagi buta 1 Maret 1949, sirine meraung serentak di seluruh penjuru Yogyakarta, menandai serangan mendadak Tentara Nasional Indonesia dan para gerilyawan untuk merebut kembali ibu kota yang dikuasai Belanda. Aksi kilat itu bukan sekadar pertempuran, melainkan pesan lantang kepada dunia bahwa Republik Indonesia belum mati.
Ketika Ibu Kota Terpaksa Pindah ke Yogyakarta
Tidak lama setelah kemerdekaan diproklamasikan, keadaan di dalam negeri masih jauh dari tenang. Jakarta dinilai tidak lagi aman untuk menjadi pusat pemerintahan, sehingga muncul usulan agar ibu kota dipindahkan. Gagasan tersebut datang dari Sultan Hamengkubuwono IX, dan pilihan pun jatuh pada Yogyakarta sebagai pusat kendali republik yang baru berdiri.
Perpindahan itu tidak serta-merta menyurutkan ambisi Belanda untuk kembali menguasai Indonesia. Alih-alih mengakui kedaulatan republik, Belanda justru mempersiapkan langkah militer untuk menekan perjuangan bangsa yang baru merdeka.
Dua Kali Agresi Militer Belanda
Upaya Belanda merebut kembali Indonesia diwujudkan lewat dua gelombang agresi militer. Serangan pertama berlangsung pada 21 Juli hingga 5 Agustus 1947, sementara serangan kedua terjadi pada 19 sampai 20 Desember 1948. Agresi kedua inilah yang berujung pada pendudukan Yogyakarta, ibu kota republik saat itu.
Dengan menguasai Yogyakarta, Belanda merasa di atas angin dan mulai menyebarkan propaganda bahwa Indonesia beserta tentaranya sudah tidak lagi eksis. Klaim inilah yang kemudian mendorong pihak Indonesia untuk membuktikan sebaliknya dengan cara yang tak terbantahkan.
TNI Menyusun Serangan Balasan
Sebulan setelah Agresi Militer Belanda II, TNI mulai merancang strategi untuk membalas. Langkah-langkahnya disiapkan dengan cermat, mulai dari memutus jaringan telepon, merusak jalur kereta api, menghadang konvoi Belanda, hingga menyerang titik-titik pertahanan vital musuh di berbagai wilayah sekitar Yogyakarta untuk memperlemah kekuatan mereka.
Setelah seluruh persiapan dianggap matang, diputuskan bahwa serangan besar akan dilancarkan pada awal Maret 1949. Keputusan itulah yang menjadi cikal bakal peristiwa bersejarah yang kelak dikenang sebagai Serangan Umum 1 Maret di Kota Yogyakarta.
Pagi 1 Maret 1949: Sirine di Segala Penjuru Kota
Tepat pukul 06.00 WIB, sirine dibunyikan serentak ke seluruh penjuru Yogyakarta sebagai penanda dimulainya serangan. Puncak operasi dipimpin oleh Letnan Kolonel Suharto, Komandan Brigade 10 wilayah Wehrkreise III. Sasaran utamanya adalah lokasi-lokasi yang banyak dijaga musuh, seperti Benteng Vredeburg, kantor pos, istana kepresidenan, Hotel Tugu, stasiun kereta api, dan kawasan Kotabaru.
Serangan yang datang secara tiba-tiba dari TNI dan para gerilyawan membuat pasukan Belanda terkepung. Baru sekitar pukul 11.00 WIB bantuan bagi Belanda mulai berdatangan, itu pun setelah tertahan beberapa jam oleh gerilyawan RI yang berjaga di Surakarta (Solo) dan Magelang. Karena bantuan mulai masuk, pasukan RI pun segera menarik diri ke luar kota.
Enam Jam yang Menembus Berita Dunia
Selama kurang lebih enam jam, Yogyakarta berada dalam kendali TNI dan pasukan gerilyawan RI. Kota ini dipilih sebagai sasaran justru karena statusnya sebagai ibu kota republik, yang punya pengaruh besar terhadap perjuangan Indonesia bila berhasil direbut, sekalipun hanya untuk beberapa jam saja.
Ada pertimbangan strategis lain di balik pemilihan Yogyakarta. Banyaknya wartawan asing yang menginap di Hotel Merdeka Yogyakarta memudahkan berita perjuangan ini menyebar ke luar negeri. Sebab tujuan utama Serangan Umum 1 Maret memang membuktikan kepada dunia internasional bahwa Negara Indonesia masih ada, sekaligus mematahkan propaganda Belanda yang menyebut Indonesia dan tentaranya telah lenyap sejak pendudukan Yogyakarta.
Serangan Umum 1 Maret 1949 mengajarkan bahwa kemerdekaan tidak hanya direbut di medan tempur, tetapi juga di ruang diplomasi dan opini dunia. Ingin menyelami lebih banyak kisah sejarah dan kekayaan budaya Nusantara lainnya? Teruskan penjelajahanmu bersama Hellowayang dan mulai obrolan di hellowayang.com/chat.
Sumber
- Materi sejarah “Hari Ini, 74 Tahun Yang Lalu: Serangan Umum 1 Maret Dilaksanakan Demi Kedaulatan”