Jangan heran bila melihat sekujur tubuh pria dan wanita Mentawai berlukiskan tato. Diyakini sebagai salah satu tradisi rajah tertua di dunia, tato Mentawai bukan sekadar hiasan — ia adalah identitas yang menandai asal, status sosial, hingga seberapa hebat seseorang sebagai pemburu.
Bukan Sekadar Seni, Tapi Identitas
Ragam motif yang dilukis pada tubuh orang Mentawai tidak dipilih sembarangan. Setiap motif bisa menceritakan tanah asal, kedudukan sosial, hingga keahlian berburu pemiliknya. Tato juga membedakan satu klan dengan klan lainnya, menjadikannya penanda identitas yang melekat seumur hidup.
Keseimbangan Hidup dan Roh
Bagi masyarakat Mentawai, tato adalah wujud keseimbangan hidup. Mereka meyakini semua yang hidup di jagat raya memiliki roh, sehingga bentuk tumbuhan dan hewan pun diabadikan pada tubuh. Orang Mentawai percaya tato merupakan pancaran roh dari kehidupan mereka.
Proses Tradisional: Arang, Duri, dan Air Tebu
Seni rajah Mentawai jauh dari kata modern. Tintanya berasal dari arang kayu atau bekas pembakaran yang dihaluskan, lalu dicampur perasan tebu. Duri atau jarum yang telah dicelupkan ke tinta ditusukkan pada lapisan kulit untuk membentuk motif. Tato dilukis mulai dari mata kaki, jari, dada, rusuk, leher, hingga pipi.
Sipatiti, Sang Seniman yang Dibayar Seekor Babi
Seluruh tahapan pembuatan tato tidak lepas dari peran Sipatiti, seniman tato Suku Mentawai. Profesi ini tidak diangkat secara adat, melainkan dipercayakan kepada mereka yang memiliki keahlian. Pembuatan tato didahului rangkaian ritual, dan untuk setiap sesi, seorang Sipatiti biasanya dibayar dengan seekor babi atau beberapa ekor ayam.
Penasaran dengan budaya dan sejarah daerah lain di Nusantara? Tanyakan langsung — dengan jawaban yang bisa ditelusuri sumbernya — di hellowayang.com/chat.
Sumber
- Knowledge base budaya Hellowayang — dikurasi dari repositori budaya dan literatur tradisi Nusantara
- Dokumentasi tradisi tato Suku Mentawai, Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat