Di Kepulauan Tanimbar, Maluku, ada tarian yang tak boleh sembarangan dipentaskan. Namanya Tnabar Ila’a — sebuah tarian sakral yang diyakini mampu menjembatani percakapan antara manusia yang masih hidup dengan para leluhur di alam yang berbeda. Ia bukan sekadar hiburan, melainkan doa, sumpah, dan janji yang dituturkan dalam gerak dan bahasa ibu.
Hanya untuk Pesta Adat Fangnea Kidabela
Tnabar Ila’a termasuk tarian pemujaan kepada Tuhan yang statusnya sangat khusus. Ia tidak dipentaskan di sembarang acara, melainkan hanya pada satu momen istimewa: pesta adat Fangnea Kidabela. Upacara ini sendiri sarat makna, yakni pemantapan (fangnea) atas ikatan persahabatan dan keakraban (kidabela) di antara warga.
Karena keterikatannya pada upacara yang jarang digelar itu, Tnabar Ila’a menjadi tarian yang penuh kehati-hatian. Kehadirannya menandai bahwa yang sedang berlangsung bukanlah perhelatan biasa, melainkan peristiwa adat dengan bobot spiritual yang tinggi.
Media Berbicara dengan Para Datuk
Bagi masyarakat adat Tanimbar, tarian ini adalah saluran komunikasi dengan para datuk atau leluhur yang diyakini masih hidup di alam yang lain. Percakapan sakral itu mereka sebut Sobak, atau sumpah adat. Melalui Tnabar Ila’a, pesan-pesan warga tidak berhenti di dunia manusia, melainkan diyakini sampai ke telinga nenek moyang.
Kepercayaan semacam ini menunjukkan betapa dekatnya masyarakat Tanimbar dengan dunia leluhur mereka — sebuah pandangan hidup yang juga tampak dalam kelengkapan adat lain seperti busana adat tais dan teik yang sarat kewibawaan.
Sobak, Sumpah Adat yang Paling Agung
Dalam pelaksanaannya, seorang pemuka adat berbicara langsung kepada leluhur menggunakan bahasa Fordata. Ia menuntun percakapan itu sambil memegang segelas Sopi — sejenis tuak — dengan selembar uang yang dihimpitkan di bawah botolnya. Simbol-simbol ini bukan pelengkap, melainkan bagian dari kesungguhan sumpah yang sedang diucapkan.
Tnabar Ila’a diyakini sebagai bentuk Sobak yang paling agung. Justru karena kedudukannya yang begitu tinggi, tarian ini hanya dilakukan pada waktu-waktu yang benar-benar penting, bukan setiap kali masyarakat berkumpul.
Vai Dida, Bahasa Ibu dalam Setiap Syair
Syair-syair Tnabar Ila’a dilantunkan dalam bahasa Fordata atau Vai Dida. Menariknya, bahasa ini kerap disebut sebagai ‘Bahasa Ibu’ — bukan sekadar kiasan. Konon, siapa pun warga Tanimbar yang ingin menguasainya harus berguru langsung kepada seorang ibu, sehingga penurunan bahasa ini benar-benar berjalan dari perempuan ke generasi berikutnya.
Pada hakikatnya, apa yang dituturkan dalam tarian ini adalah ungkapan janji atau pesan tertentu yang mengandung unsur kebaikan bagi masyarakat. Bahasa dan gerakannya menyatu menjadi wadah nilai, bukan semata pertunjukan estetika.
Penari Perempuan dan Pesan Persaudaraan
Tnabar Ila’a umumnya dibawakan oleh kaum perempuan Tanimbar. Kehadiran para penari perempuan ini memperkuat posisi tarian sebagai penjaga nilai dan penyambung tutur adat, seiring peran perempuan pula dalam mewariskan Vai Dida.
Tujuan akhirnya sederhana namun mendasar: menyampaikan pesan leluhur agar hubungan antarsesama warga tetap terjalin erat. Lewat tarian ini, persaudaraan yang diwariskan turun-temurun terus dirawat dan diteguhkan kembali.
Kekayaan adat seperti Tnabar Ila’a mengingatkan kita bahwa Nusantara menyimpan begitu banyak kisah yang layak digali lebih dalam. Ingin menjelajahi tradisi, sejarah, dan budaya Indonesia lainnya dengan cara mengobrol yang santai? Cobalah bertanya di hellowayang.com/chat dan temukan cerita-cerita Nusantara yang mungkin belum pernah kamu dengar.
Sumber
- Materi internal Hellowayang — “Tnabar Ila’a”, tarian sakral pada pesta adat Fangnea Kidabela, Kepulauan Tanimbar, Maluku.