Bagi sebagian orang, tampilannya bikin bergidik; bagi masyarakat Mentawai, ia santapan lezat. Toek — ulat kayu berwarna putih kekuningan hasil endapan batang pohon — adalah kuliner ekstrim khas Mentawai yang justru dianggap paling nikmat bila disantap mentah.
Dari Endapan Kayu Tumung
Toek merupakan hasil dari endapan kayu yang direndam di dalam air selama beberapa bulan — semakin lama direndam, semakin banyak Toek yang dihasilkan. Kayunya bukan sembarang kayu: masyarakat Mentawai menyebutnya kayu Tumung atau kayu Terentang (Campnosperma auriculatum), yang banyak dijumpai di hutan-hutan Mentawai.
Dipanen Dua sampai Tiga Bulan Sekali
Untuk mendapatkan Toek, batang pohon tumung dipotong sesuai kebutuhan, mulai 30 sampai 100 sentimeter, lalu direndam selama dua sampai tiga bulan. Agar berkualitas, perendaman dilakukan di sungai yang mengalir ke laut atau air payau. Setelah waktunya tiba, kayu tumung dibelah dan akan terlihat Toek berbentuk cacing menyerupai ulat berwarna putih kekuning-kuningan. Kayu yang tampak berlubang menandakan ada Toek di dalamnya.
Paling Nikmat Disantap Mentah
Cara memakannya: kayu dibelah, Toek diambil dan dicelupkan ke perasan air jeruk yang dibumbui bawang merah dan cabai. Bagi yang tidak suka mentah, Toek bisa ditumis — namun kebanyakan masyarakat Mentawai lebih suka menyantapnya mentah karena dinilai lebih nikmat dan gurih.
Tradisi Makan Sambil Berendam di Sungai
Tradisi makan ulat kayu ini biasanya dilakukan pada sore hari selepas pulang dari ladang, dan konon akan terasa lebih nikmat bila dicicipi sambil berendam di sungai.
Penasaran dengan budaya dan tradisi daerah lain di Nusantara? Tanyakan langsung — dengan jawaban yang bisa ditelusuri sumbernya — di hellowayang.com/chat.
Sumber
- Knowledge base budaya Hellowayang — dikurasi dari repositori budaya dan literatur tradisi Nusantara
- Dokumentasi kuliner Toek, Suku Mentawai, Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat