Siapa sangka pelabuhan tersibuk di Indonesia menyimpan kisah panjang yang melibatkan letusan gunung, lumpur sungai, dan sebutan untuk panci tanah liat? Tanjung Priok bukan sekadar gerbang logistik nasional, melainkan saksi perubahan strategis sejak era kolonial.
Awal Mula Kesulitan di Muara Ciliwung
Jauh sebelum kawasan ini ramai oleh peti kemas, aktivitas bongkar muat kapal masih bergantung pada Sungai Ciliwung. H.C.C Clockener Brousson dalam bukunya Batavia Awal Abad 20 mencatat bahwa barang-barang diangkut memakai perahu kecil menyusuri muara Ciliwung dari dan menuju kota lama. Fasilitas pendukungnya pun masih sangat sederhana.
Masalah besar muncul setelah Gunung Salak meletus pada 1699. Aliran Ciliwung terus membawa lumpur dan material vulkanik, sehingga pendangkalan sungai tak terhindarkan. Akibatnya, kapal-kapal kesulitan mendekat, dan kondisi ini berlangsung nyaris dua abad sebelum akhirnya diputuskan membangun pelabuhan baru.
Pembangunan untuk Menggantikan Sunda Kelapa
Seiring meningkatnya arus perdagangan setelah pembukaan Terusan Suez, Pelabuhan Sunda Kelapa dinilai terlalu kecil untuk menampung kapal dan barang. Karena itulah kawasan Tanjung Priok dirancang sebagai pelabuhan modern penggantinya.
Pembangunan resmi dimulai pada tahun 1877 di masa Gubernur Jenderal Johan Wilhelm van Lansberge yang menjabat sejak 1875 hingga 1881. Berbagai fasilitas pendukung kemudian menyusul, salah satunya Stasiun Tanjung Priok yang diresmikan pada 1914. Jejak kolonial di sekitar Jakarta Utara ini masih bisa ditelusuri, misalnya melalui Misteri Menteng Pulo yang menyimpan kisah pemakaman Belanda.
Mengurai Arti Kata Tanjung Priok
Secara harfiah, nama ini terdiri atas dua kata: ‘tanjung’ berarti daratan yang menjorok ke laut, dan ‘priok’ merujuk pada periuk, yaitu panci masak berbahan tanah liat. Pada masa lalu, periuk merupakan salah satu komoditas perdagangan yang sudah diperjualbelikan sejak zaman prasejarah.
Benarkah Nama Itu Berasal dari Mbah Priuk?
Ada pula cerita yang mengaitkan nama Tanjung Priok dengan Mbah Priuk, tokoh penyebar Islam bernama Al Habib Hasan bin Muhammad Al Haddad Husain. Namun, klaim ini diragukan kebenarannya.
Catatan sejarah menunjukkan kawasan ini sudah menyandang nama Tanjung Priok jauh sebelum Mbah Priuk tiba pada tahun 1756. Dengan demikian, teori yang mengaitkan nama pelabuhan dengan tokoh tersebut dianggap kurang tepat.
Dari Pelabuhan Kolonial Menjadi Gerbang Logistik Terpadat
Kini, Tanjung Priok tumbuh menjadi pelabuhan terpadat di Indonesia. Secara administratif, kawasan ini berada di Kelurahan Tanjung Priok, Kecamatan Tanjung Priok, Kota Administrasi Jakarta Utara. Peran strategisnya terus bertahan dari masa ke masa, menjadikannya simpul penting distribusi barang dan penumpang di tingkat nasional.
Mengenal asal usul Tanjung Priok mengajak kita melihat bahwa sebuah nama bisa menyimpan jejak letusan, komoditas, dan keputusan kolonial. Ingin menggali lebih banyak cerita unik Nusantara atau mendiskusikan sejarah di balik tempat-tempat lain? Kunjungi hellowayang.com/chat untuk berbincang langsung.
Sumber
- Jakarta.bisnis.com — Asal Usul Nama Tanjung Priok
- H.C.C Clockener Brousson, Batavia Awal Abad 20