Di tengah riuh ibu kota, sebuah pemakaman sunyi menyimpan ribuan kisah pilu Perang Dunia II. Ereveld Menteng Pulo, atau yang dikenal sebagai Makam Kehormatan Belanda, adalah saksi bisu kekejaman perang dan duka mendalam yang tertanam di tanah Jakarta.
Jejak Perang Dunia II di Tanah Jakarta
Perang Dunia II menyisakan luka yang begitu dalam bagi Belanda, termasuk di wilayah jajahannya saat itu. Untuk mengenang para korban, pemerintah Belanda mendirikan 22 kompleks pemakaman kehormatan di Indonesia pada tahun 1940-an. Dari jumlah tersebut, hanya tujuh ereveld yang bertahan, dan salah satunya adalah Menteng Pulo. Dibangun di bekas lahan kuburan umum Menteng Pulo, pemakaman ini diresmikan pada 8 Desember 1947 dan dikelola oleh Yayasan Makam Kehormatan Belanda (OGS). Pemakaman ini bukan hanya tempat peristirahatan terakhir, melainkan juga monumen yang merekam pahitnya pendudukan Jepang dan masa revolusi Indonesia.
Siapa Saja yang Dimakamkan di Sini?
Ereveld Menteng Pulo menampung sekitar 4.300 makam, dengan komposisi beragam. Sekitar 20 persen di antaranya adalah prajurit KNIL (Koninklijk Nederlands Indische Leger) yang justru beranggotakan orang Indonesia. Sisanya adalah warga sipil Belanda, mulai dari perempuan hingga anak-anak, yang meninggal dalam kamp konsentrasi Jepang. Tak hanya Belanda dan Indonesia, terdapat pula blok makam Sekutu yang dikelola Kedutaan Inggris. Di sana bersemayam tentara Persemakmuran Inggris, termasuk Brigadir AWS Mallaby yang gugur tepat sebelum pecahnya Pertempuran Surabaya pada 10 November 1945.
Filosofi di Balik Makam Jenderal Spoor
Salah satu tokoh sentral yang dimakamkan di sini adalah Jenderal Simon Hendrik Spoor, komandan tertinggi KNIL. Spoor adalah arsitek di balik pembangunan kompleks pemakaman ini. Ia percaya bahwa di alam kematian, semua manusia setara tanpa memandang pangkat, warna kulit, atau status sosial. Falsafah ini diwujudkannya dengan menciptakan taman makam yang menyandingkan jenderal dan warga biasa dalam satu kompleks. Ironisnya, Spoor sendiri wafat pada 23 Mei 1949 dan jasadnya pun disemayamkan di Menteng Pulo, bergabung dengan ribuan korban perang yang selama ini dipersenjatai oleh kebijakannya.
Keberagaman Nisan: Cermin Toleransi dalam Kematian
Ereveld Menteng Pulo juga unik karena keragaman bentuk nisannya. Makam-makam di sini dibedakan berdasarkan agama: salib untuk Kristen dan Katolik, nisan dengan tiga tonjolan bagi Muslim, bintang Daud untuk Yahudi, dan setengah lingkaran bagi Buddha. Sementara itu, banyak jenazah yang tidak teridentifikasi, sehingga nisannya hanya bertuliskan ‘onbekend’—tanpa dikenal. Kompleks ini juga memiliki makam massal yang berisi jasad tak utuh, serta deretan makam anak-anak yang meninggal di kamp tawanan Jepang, menjadi saksi bisu kekejaman perang yang tak pandang usia.
Gereja Tanpa Ibadah dan Columbarium yang Menyimpan Abu
Di dalam kompleks, berdiri sebuah gereja yang tidak digunakan untuk peribadatan, melainkan untuk upacara peringatan lintas agama. Di puncak menaranya, terpasang simbol empat agama: Kristen, Islam, Buddha, dan Yahudi. Di dekatnya, terdapat columbarium yang menyimpan 742 guci abu militer Belanda. Mereka adalah tawanan perang yang tewas di kamp kerja paksa Jepang, dan abunya dikremasi dengan harapan suatu hari bisa dibawa pulang oleh keluarga. Setiap 15 Agustus, Kedutaan Belanda menggelar upacara tahunan di sini untuk mengenang berakhirnya Perang Dunia II dan menghormati seluruh korban.
Ereveld Menteng Pulo bukan sekadar kuburan. Ia adalah lembaran sejarah yang membekukan tragedi, heroisme, dan ironi kolonialisme dalam satu lanskap. Bila Anda ingin menggali lebih dalam kisah-kisah cagar budaya Nusantara, jangan lewatkan Sejarah Pulau Onrust, pulau bersejarah yang juga menyimpan jejak kolonial. Dan untuk berdiskusi serta berbagi kisah favorit Anda, kunjungi hellowayang.com/chat.
Sumber
- travel.detik.com - ‘Menteng Pulo, Pemakaman Kehormatan Belanda yang Penuh Sejarah’