Saat membicarakan surga tersembunyi di Indonesia, Pulau Satonda di lepas pantai utara Sumbawa sering kali luput dari perhatian. Padahal, di tengah pulau seluas 2.600 hektare ini tersimpan sebuah fenomena alam langka: danau air asin yang terbentuk dari kawah gunung api purba. Keunikan ilmiahnya memikat para peneliti, sementara kisah rakyat setempat menyebutnya sebagai air mata penyesalan seorang raja. Mari telusuri misteri Danau Satonda dari sisi sains dan legenda.
Letak dan Proses Terbentuknya Pulau Satonda
Pulau Satonda secara administratif termasuk wilayah Desa Nangamiro, Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat. Pulau ini berada sekitar 3 kilometer dari Selat Sanggar di Laut Flores, lepas pantai utara Pulau Sumbawa. Dahulu kala, Pulau Satonda terbentuk dari letusan dahsyat Gunung Satonda, sebuah gunung api purba yang meletus belasan ribu tahun silam. Letusan itu meninggalkan kaldera besar yang kemudian terisi air hujan dan berubah menjadi danau yang kini dikenal sebagai Danau Satonda.
Mengapa Air Danau Satonda Asin?
Berbeda dengan danau pada umumnya, air di Danau Satonda tidak tawar melainkan asin seperti air laut. Bahkan, kadar garamnya dilaporkan lebih tinggi daripada air laut biasa. Menurut penelitian Stephan Kempe dari Jerman dan Josef Kazmierczak yang dimulai pada 1984, rasa asin ini muncul bersamaan dengan terbentuknya kawah akibat letusan gunung purba lebih dari 10.000 tahun lalu. Awalnya, danau ini berisi air tawar, tetapi kemudian dibanjiri air laut yang merembes melalui celah dinding kawah yang runtuh. Pada masa itu, permukaan air laut diperkirakan 1 hingga 1,5 meter lebih tinggi daripada sekarang.
Seiring waktu, ketinggian air laut menyusut dan rembesan air laut ke danau melambat. Kini, ketinggian air Danau Satonda relatif stabil dan tidak lagi terhubung langsung dengan laut. Meski demikian, air danau tetap asin dan memiliki tingkat kebasaan (alkalinitas) yang sangat tinggi, menjadikannya fenomena langka di dunia.
Ekosistem Unik di Balik Keasinan Tinggi
Perubahan lingkungan air Danau Satonda berdampak besar pada makhluk hidup di dalamnya. Kejenuhan dan alkalinitas yang meningkat menyebabkan hampir semua jenis moluska punah, kecuali spesies gastropoda tertentu seperti Cerithium corallium. Spesies ini diduga telah berkembang menjadi subspesies endemik Satonda. Selain itu, para peneliti juga menemukan beberapa jenis ganggang yang mampu bertahan di kondisi ekstrem tersebut. Temuan ini memperkuat status Danau Satonda sebagai laboratorium alam yang berharga bagi studi evolusi dan adaptasi.
Legenda Air Mata Raja Tambora
Masyarakat setempat meyakini Danau Satonda adalah air mata penyesalan Raja Tambora. Alkisah, seorang raja yang murka karena pinangannya ditolak oleh seorang perempuan. Tanpa sepengetahuannya, perempuan itu adalah ibu kandungnya sendiri. Sejak kecil, sang raja pernah hilang dan tidak pernah bertemu kembali dengan ibunya. Kemarahan sang raja kepada ibunya sendiri membuat Sang Pencipta murka. Gunung Tambora pun meletus hebat, menimbulkan tsunami raksasa yang memisahkan daratan menjadi pulau-pulau kecil, dan salah satunya menjadi Danau Satonda.
Kisah ini menjadi pengingat tentang bahaya amarah dan pentingnya mengenali asal-usul. Bagi wisatawan, legenda tersebut menambah daya tarik Danau Satonda yang sudah memesona secara alamiah. Jika ingin mendalami cerita lain dari pulau ini, jangan lewatkan Pulau Satonda, Pulau Terlarang di Dompu dengan Legenda Dae Mingga.
Danau Satonda bukan sekadar destinasi wisata biasa; ia adalah perpaduan antara keajaiban geologi, keunikan ekosistem, dan warisan budaya yang memikat. Apabila Anda ingin menggali lebih jauh tentang tempat-tempat eksotis di Nusantara, atau sekadar berbagi cerita perjalanan, kunjungi hellowayang.com/chat untuk berdiskusi dengan sesama penjelajah. Siapa tahu, perjalanan Anda berikutnya dimulai dari obrolan ringan di sana.
Sumber
- Liputan6.com: Legenda di Tengah Danau Asin Satonda