Test our Agent, Currently We are on Alpha↗
Hellowayang Hellowayang WIB
← Kembali ke Semua Artikel
Sejarah & Kerajaan

Kerajaan Kutai: Kerajaan Hindu Tertua yang Berujung Islam

Tanggal Terbit
17 Juli 2026
Waktu Baca
5 Menit
Kategori
Sejarah & Kerajaan
Penulis
Tim Hellowayang

Jauh sebelum nama-nama kerajaan besar Nusantara terukir dalam buku sejarah, sebuah kerajaan Hindu sudah lebih dulu berdiri di tepi Sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Namanya Kutai, kerajaan yang oleh banyak kalangan diyakini sebagai yang tertua di Indonesia. Menariknya, jejak Kutai tidak berhenti pada masa Hindu. Kerajaan ini melintasi berbagai zaman, dari upacara para brahmana yang menghadiahkan puluhan ribu sapi hingga akhirnya para rajanya memeluk Islam. Sobat HW, mari menyusuri perjalanan panjang Kutai dari asal namanya sampai babak Islamisasinya.

Banyak Versi di Balik Nama Kutai

Asal-usul nama Kutai ternyata tidak tunggal. Dalam kajian Murjani yang berjudul Interaksi Agama dan Politik Hukum Kesultanan Kutai Kartanegara: Studi Keagamaan Etnis Dayak–Kutai, disebutkan beberapa versi. Versi pertama menautkan Kutai pada kata Sansekerta quetairy yang bermakna hutan lebat atau hutan raya, sebuah nama yang lahir dari kekayaan alam tanah Kutai yang berlimpah. Versi kedua, merujuk monografi Kutai tahun 1968, menyebut nama itu berakar dari bahasa Cina Kho dan Thaiyang yang berarti Negara Besar. Dugaan ini diperkuat sejumlah benda peninggalan asal Cina yang menandai adanya hubungan dagang sekaligus kontak budaya di antara keduanya.

Peneliti Muhammad Sarip lewat risetnya Kajian Etimologis Kerajaan (Kutai) Martapura di Muara Kaman, Kalimantan Timur (2020) mencatat bahwa sebutan Kutai justru dipakai para peneliti sejak era Belanda untuk menamai kerajaan Dinasti Mulawarman, berdasarkan lokasi ditemukannya Prasasti Yupa. Padahal, prasasti itu sendiri tidak pernah menyebut nama kerajaannya sebagai Kutai. Sejarawan C.A. Mees bahkan menegaskan bahwa koloni Hindu di Muara Kaman tak pernah dinamai Kutai. Nama itu baru populer setelah Aji Batara Agung Dewa Sakti mendirikan kerajaan di muara Sungai Mahakam pada akhir abad ke-13, lalu muncul sebagai Kute dalam Negarakretagama karya Mpu Prapanca (1365) dan diabadikan dalam manuskrip Salasilah Kutai tulisan Khatib Muhammad Thahir tahun 1849.

Puncak Kejayaan di Masa Raja Mulawarman

Kejayaan Kutai memuncak di bawah Raja Mulawarman, putra Raja Aswawarman yang meneruskan takhta. Ia dikenang sebagai raja paling berkuasa sepanjang sejarah kerajaan ini. Pada masa pemerintahannya, rakyat hidup tenteram dan makmur, dan berbagai upacara yang melambangkan kesejahteraan kerap digelar. Sebagai kerajaan bercorak Hindu tertua, Kutai berdiri jauh sebelum pusat-pusat kekuasaan serupa di Pulau Jawa seperti Kerajaan Tarumanagara yang dipimpin Raja Purnawarman.

Bukti nyata keberadaan Kutai adalah tujuh prasasti berbentuk Yupa atau tiang batu. Merujuk penelitian Zafri dan Hera Astuti dari Universitas Negeri Padang berjudul Nusantara: Zaman Pengaruh Hindu Budha (2017), salah satu Yupa memuat silsilah raja: Kundungga sebagai leluhur, Aswawarman yang diibaratkan dewa Matahari menumbuhkan keluarga mulia, dan Mulawarman sebagai putra terkemuka dari tiga bersaudara yang berperadaban baik, kuat, serta berkuasa. Prasasti itu didirikan para brahmana untuk mengenang kenduri emas yang digelar sang raja.

Hadiah 20.000 Sapi dan Pertanyaan Siapa Pendiri Dinasti

Salah satu catatan paling mencolok pada Yupa adalah kedermawanan Mulawarman yang menghadiahkan 20.000 ekor sapi kepada para brahmana. Prasasti yang sama juga menyimpan sebuah ketegasan penting: pendiri dinasti bukanlah Kundungga, melainkan putranya, Aswawarman. Alasannya, Kundungga saat itu belum memeluk Hindu, sehingga ia tidak dapat dianggap sebagai peletak dasar dinasti bercorak Hindu.

Kemajuan Kutai terlihat menyeluruh. Di bidang politik, kerajaan ini menaklukkan wilayah-wilayah di sekitarnya. Dari sisi ekonomi, rakyat mencapai kemakmuran tinggi dengan bertumpu pada pelayaran dan perdagangan. Sementara di ranah sosial, masyarakatnya sudah mengenal sistem pembagian kasta menyerupai yang berlaku di India, menandakan betapa dalamnya pengaruh Hindu meresap ke dalam tatanan hidup mereka.

Ketika Islam Mulai Masuk ke Kutai

Babak baru dimulai ketika Islam menyentuh tanah Kutai. Masih mengacu penelitian Murjani, ada tiga teori yang menjelaskan asal masuknya Islam ke Kalimantan Timur, khususnya Kutai, yakni teori Sulawesi Selatan, Brunei-Moro, dan Banjar. Ketiganya menunjuk daerah asal para penyiar agama. Sebagian besar penulis sejarah menyimpulkan Islam dibawa oleh para mubaligh dari Sulawesi Selatan. Teori lain menyebut peran pedagang dari Brunei dan Moro di Filipina Selatan yang Islamnya sudah eksis sejak awal abad ke-16, sementara jalur dari Kalimantan Selatan pun tak tertutup kemungkinan.

Raja Kutai pertama yang menerima ajaran Islam adalah Raja Mahkota, bergelar Aji Mahkota Mulia Islam, raja ke-6 yang memerintah pada 1545–1610. Ia memeluk Islam berkat peran Datu Ditiro. Pola persebarannya berjalan lewat dua jalur: dari masyarakat biasa ke keluarga bangsawan, atau sebaliknya menyasar kaum bangsawan lebih dulu baru rakyat kecil. Pola kedua terbukti efektif, sebab ketika raja dan keluarganya memeluk Islam, rakyat cenderung mengikuti.

Islam yang Berkembang Tanpa Mencabut Budaya Asli

Islam di Kutai menyebar melalui empat jalur: perdagangan, perkawinan, pendidikan, dan seni budaya. Jalur dagang dan pernikahan sudah lazim dijalankan para pedagang maupun mubaligh. Dari sisi pendidikan, metode sorogan dan masjid menjadi pusat pengajaran agama di tengah masyarakat. Sedangkan lewat seni budaya, Islam hadir sebagai warna baru tanpa mencabut budaya asli, sehingga tradisi lokal justru semakin lestari.

Pada awalnya, corak keislaman di Kutai Kartanegara masih sederhana dan diterima dengan damai. Seiring waktu, Raja Mulia Islam mengajak rakyatnya beralih meninggalkan keyakinan lama. Perkembangan Islam kemudian ditopang beberapa metode, mulai dari kebijakan para penguasa, pendirian tempat ibadah, peningkatan dakwah, pembangunan madrasah, hingga lahirnya organisasi-organisasi Islam yang membuat agama ini kian mengakar.

Kisah Kutai adalah bukti bahwa satu kerajaan bisa menjadi saksi perjalanan panjang peradaban Nusantara, dari Hindu hingga Islam, tanpa kehilangan akar budayanya. Ingin menggali lebih banyak cerita kerajaan dan warisan Nusantara lainnya? Ngobrol langsung dan temukan kisah-kisah menarik bersama hellowayang.com/chat.

Sumber

  • Murjani, Interaksi Agama dan Politik Hukum Kesultanan Kutai Kartanegara: Studi Keagamaan Etnis Dayak–Kutai.
  • Muhammad Sarip, Kajian Etimologis Kerajaan (Kutai) Martapura di Muara Kaman, Kalimantan Timur (2020).
  • Zafri & Hera Astuti, Nusantara: Zaman Pengaruh Hindu Budha, Universitas Negeri Padang (2017).
  • Khatib Muhammad Thahir, Surat Salasilah Raja dalam Negeri Kutai Kartanegara (Salasilah Kutai, 1849).
  • Monografi Kutai (1968); catatan sejarawan C.A. Mees; serta Negarakretagama karya Mpu Prapanca (1365).
ChatGPT nebak. Hellowayang ngutip.

Jawaban Real-Time, Selalu dengan Sumbernya

Tanya apa saja tentang Indonesia — regulasi, budaya, data ekonomi — dan dapatkan jawaban real-time dengan sumbernya. Gratis untuk mulai.

Mulai Chat Gratis →