Di sebuah desa yang jaraknya sekitar dua ratus kilometer ke arah timur dari hiruk-pikuk Kota Makassar, ada sebuah komunitas yang memilih hidup selaras dengan alam alih-alih menaklukkannya. Mereka adalah Suku Kajang, masyarakat adat Sulawesi Selatan yang menjaga hutan dan tanah leluhurnya bukan karena aturan pemerintah, melainkan karena sebuah keyakinan tua yang mereka percaya berasal langsung dari Tuhan. Bagi mereka, merawat bumi adalah bentuk kesetiaan kepada nenek moyang dan kepada generasi yang belum lahir.
Tana Toa, Tanah Tertua di Timur Makassar
Suku Kajang bermukim di Desa Tana Toa, Kabupaten Bulukumba, Provinsi Sulawesi Selatan. Nama Tana Toa sendiri memiliki arti “tanah yang tertua”, dan sebutan itu bukan sekadar kiasan tanpa makna. Penamaan tersebut berakar pada kepercayaan masyarakat Kajang bahwa lokasi yang kini mereka tempati adalah titik pertama di muka bumi tempat sesuatu yang sangat penting dalam sejarah mereka pertama kali dimulai.
Di tanah inilah, menurut keyakinan turun-temurun, sosok pemimpin pertama mereka diturunkan oleh Tuhan. Karena itu Tana Toa tidak dipandang sebagai desa biasa, tetapi sebagai tempat asal-usul yang sakral dan menjadi pusat dari seluruh tatanan hidup Suku Kajang.
Ammatoa, Manusia Kajang Pertama
Sosok sentral dalam kehidupan Suku Kajang adalah Ammatoa. Sebutan ini merujuk pada manusia Kajang pertama, sang sesepuh yang dipercaya mendirikan komunitas ini sekaligus memegang posisi sebagai pemimpin tertinggi mereka. Kepercayaan bahwa Ammatoa pertama kali diturunkan Tuhan tepat di Tana Toa itulah yang membuat desa tersebut menyandang status “tanah tertua”.
Kedudukan Ammatoa jauh melampaui peran seorang kepala adat biasa. Ia bukan hanya pemimpin sosial, tetapi juga jembatan antara masyarakat dan kehendak Tuhan. Perannya menjadi kunci ketika kita membicarakan pedoman hidup yang menuntun setiap langkah masyarakat Kajang.
Bumi sebagai Warisan yang Harus Dijaga
Salah satu inti pandangan hidup masyarakat Tana Toa adalah keyakinan bahwa bumi merupakan warisan nenek moyang yang berkualitas dan seimbang. Karena diwariskan dalam keadaan baik, maka anak cucu pun wajib menerimanya dalam kondisi yang tidak kalah baik. Pemahaman sederhana namun mendalam inilah yang menjadi alasan mengapa hutan dan lingkungan di Tana Toa tetap lestari hingga kini, di tengah gempuran modernisasi di sekelilingnya.
Prinsip menjaga keseimbangan alam ini mengingatkan pada bagaimana banyak masyarakat adat Nusantara membangun kepercayaan mereka di atas hubungan erat dengan lingkungan, seperti yang juga terlihat pada Suku Mentawai dengan Arat Sabulungan. Bagi Suku Kajang, merusak alam sama saja dengan mengkhianati amanah leluhur yang telah dititipkan lintas generasi.
Pasang, Pesan Tuhan yang Mengatur Segalanya
Dalam menjalani kehidupan sehari-hari, masyarakat adat Kajang berpegang teguh pada ajaran leluhur yang disebut Pasang. Ajaran ini bukan sekadar kumpulan nasihat, melainkan panduan hidup yang mencakup segala aspek keberadaan mereka, mulai dari cara memperlakukan alam, bersikap terhadap sesama, hingga menjalankan ritual adat.
Yang membuat Pasang begitu dihormati adalah keyakinan bahwa ajaran ini merupakan Pesan Tuhan yang dititipkan melalui Ammatoa. Dengan kata lain, mematuhi Pasang bukan sekadar menghormati tradisi, tetapi menjalankan perintah yang mereka percaya bersumber langsung dari kuasa tertinggi.
Konsekuensi di Balik Setiap Pelanggaran
Kesetiaan Suku Kajang terhadap Pasang tidak lepas dari sebuah keyakinan tegas: melanggar ajaran itu akan mendatangkan malapetaka. Mereka percaya bahwa jika Pasang diabaikan, berbagai hal buruk akan menimpa kehidupan mereka. Keyakinan inilah yang menjadi rem alami, menjaga setiap anggota komunitas untuk tetap berada di jalur yang telah digariskan leluhur.
Kombinasi antara penghormatan pada Ammatoa, pandangan tentang bumi sebagai warisan, dan ketakutan akan pelanggaran Pasang menjadikan Suku Kajang salah satu contoh paling konsisten dari masyarakat adat yang berhasil menjaga tradisi sekaligus melindungi alamnya.
Kisah Suku Kajang mengingatkan kita bahwa kearifan lokal Nusantara menyimpan pelajaran berharga tentang hidup selaras dengan alam. Ingin menggali lebih dalam tentang suku, tradisi, dan warisan budaya Indonesia lainnya? Mari berbincang dan belajar bersama di hellowayang.com/chat, teman ngobrol yang paham konteks budaya Nusantara.
Sumber
- Materi “Mengenal Suku Kajang” — profil masyarakat adat Tana Toa, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.
- Catatan mengenai sosok Ammatoa sebagai pendiri sekaligus pemimpin tertinggi komunitas Suku Kajang.
- Uraian tentang ajaran Pasang sebagai pedoman hidup dan Pesan Tuhan yang dititipkan melalui Ammatoa.