Tarik satu garis lurus dari puncak Gunung Merapi, lewati Tugu Jogja dan Keraton Yogyakarta, lalu biarkan berhenti di deburan Pantai Parangtritis. Garis imajiner itu bukan sekadar khayalan geografis, melainkan sumbu yang menautkan gunung, kota, dan laut dalam satu tarikan napas budaya Jawa. Di sepanjang poros inilah berdiri Malioboro yang tak pernah sepi, mengalir riwayat gunung paling gelisah di Indonesia, dan hidup sosok Mbah Marijan yang setia menjaga Merapi sampai akhir hayatnya.
Malioboro dan Garis Imajiner Yogyakarta
Malioboro sudah menjadi magnet Yogyakarta sejak sekitar tahun 1900, dan daya tariknya tidak lekang meski lebih dari seabad berlalu. Kawasan ini tak berdiri sendiri; ia berada tepat di atas sebuah garis lurus yang dikenal sebagai garis imajiner kota Jogja.
Garis tersebut menghubungkan elemen-elemen paling penting dalam tata ruang Yogyakarta: Gunung Merapi di utara, lalu Tugu Jogja, Keraton Yogyakarta, dan berakhir di Pantai Parangtritis di selatan. Susunan ini memberi Malioboro makna yang jauh melampaui statusnya sebagai pusat belanja dan hiburan. Bagi yang gemar menelusuri jejak sejarah kota ini, kisah heroiknya juga terekam dalam peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949.
Gunung Merapi, Puncak Paling Gelisah di Nusantara
Di ujung utara garis imajiner itu berdiri Gunung Merapi, yang menyandang predikat gunung berapi paling aktif di Indonesia. Sejak tahun 1548, gunung ini tercatat sudah meletus sebanyak 68 kali, sebuah angka yang menegaskan betapa sering ia menunjukkan kekuatannya.
Aktivitasnya tetap tinggi hingga era modern. Pada tahun 2021 saja, Merapi mengalami erupsi sebanyak tiga kali dalam tiga rentang waktu yang berbeda. Ritme letusan yang berulang inilah yang membuat masyarakat di sekitarnya harus selalu hidup berdampingan dengan bahaya sekaligus berkah kesuburan tanah vulkaniknya.
Empat Babak Panjang Sejarah Merapi
Menurut penelitian Berthommier (1990), riwayat pembentukan Gunung Merapi dapat dibagi menjadi empat periode besar. Babak pertama adalah Pra Merapi, yang berlangsung sekitar 400.000 tahun silam. Berikutnya datang periode Merapi Tua pada kurun 60.000 hingga 80.000 tahun lalu.
Setelah itu muncul fase Merapi Pertengahan yang terjadi antara 8.000 sampai 2.000 tahun lalu. Terakhir adalah periode Merapi Baru, yang dimulai sekitar 2.000 tahun lalu dan masih berlangsung hingga hari ini. Empat babak inilah yang membentuk wajah gunung yang kita kenal sekarang.
Mbah Marijan, Sang Juru Kunci Merapi
Nama Mbah Marijan tak bisa dipisahkan dari Merapi. Lahir pada tahun 1927, ia menjalani seluruh hidupnya, dari awal sampai akhir hayat, di Dusun Kinahrejo di lereng gunung. Peran sebagai ‘Penjaga Merapi’ ia warisi dari sang ayah, yang lebih dulu mengemban tugas sebagai juru kunci salah satu gunung api paling aktif di dunia.
Perjalanannya dimulai sejak 1970, ketika ayahnya masih hidup. Kala itu Maridjan diangkat sebagai abdi dalem Keraton Yogyakarta untuk mendampingi tugas sang ayah. Ia dilantik langsung oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan diberi nama baru, Mas Penewu Suraksohargo. Barulah pada tahun 1982 ia resmi menyandang jabatan juru kunci Merapi seorang diri.
Filosofi Kesetiaan di Balik Sang Kuncen
Sosok Mbah Marijan menjadi simbol kesetiaan pada amanah, bahkan ketika Merapi mengamuk. Ia meninggalkan sebuah prinsip hidup yang sederhana namun dalam: kehormatan seseorang diukur dari sejauh mana ia memikul tanggung jawab atas kewajibannya.
Nilai itulah yang membuat kisahnya terus hidup di ingatan masyarakat Yogyakarta. Makamnya kini menjadi salah satu titik yang dikunjungi orang yang ingin mengenang bagaimana seorang manusia biasa memilih setia pada tugasnya hingga napas terakhir, di tengah bayang-bayang gunung yang ia jaga.
Dari poros sakral Malioboro hingga lereng Merapi, Yogyakarta menyimpan lapisan cerita yang tak habis ditelusuri dalam sekali kunjungan. Ingin merancang rute jelajah budaya Jogja atau menggali kisah Nusantara lainnya lebih dalam? Ngobrol santai bareng Hellowayang di hellowayang.com/chat dan biarkan setiap perjalananmu jadi lebih bermakna.
Sumber
- Berthommier (1990), penelitian periodisasi empat periode sejarah Gunung Merapi
- Catatan sejarah aktivitas Gunung Merapi sejak 1548 hingga erupsi 2021
- Riwayat Mbah Marijan (Mas Penewu Suraksohargo), juru kunci Merapi dan abdi dalem Keraton Yogyakarta
- Materi Jalan Bareng Hellowayang: Yogyakarta