Test our Agent, Currently We are on Alpha↗
Hellowayang Hellowayang WIB
← Kembali ke Semua Artikel
Budaya & Maritim

Pantai Makassar di Australia: Jejak Pelaut Sebelum Kapten Cook

Tanggal Terbit
19 Juli 2026
Waktu Baca
5 Menit
Kategori
Budaya & Maritim
Penulis
Tim Hellowayang

Nama Kapten James Cook nyaris selalu disebut sebagai pembuka pintu Australia bagi dunia luar. Padahal, jauh sebelum layar kapalnya menyentuh benua itu, perahu-perahu kayu dari Makassar sudah lebih dulu berlabuh di pesisir utaranya. Mereka datang bukan untuk menaklukkan, melainkan memburu teripang — dan tanpa sadar meninggalkan jejak bahasa, seni, serta jalinan persahabatan dengan suku Aborigin yang masih bisa dilacak sampai hari ini.

Berlabuh Jauh Sebelum Kapten Cook Datang

Sebelum Australia “diperkenalkan” ke dunia lewat pelayaran Kapten Cook, penduduk asli benua itu, suku Aborigin, sudah lebih dulu bertemu dengan para pendatang dari kepulauan seberang. Mereka adalah pelaut Nusantara yang dijuluki Macassan — sebutan bagi para pelaut dari Makassar. Kunjungan berulang mereka meninggalkan bekas nyata di Australia bagian utara, tepatnya di kawasan Tanah Arnhem Timur yang kini dikenal sebagai Macassan Beach, titik pertemuan antara Laut Carpentaria dan Laut Arafura.

Di pantai itu masih tersisa situs arkeologi berupa susunan bebatuan yang menyimpan cerita para pelaut dari Sulawesi Selatan. Susunan batu Macassan tersebut menjadi saksi bisu perkemahan dan aktivitas pengolahan teripang di masa lampau. Klan Aborigin yang mendiami wilayah ini dikenal dengan nama klan Yolngu, kelompok yang paling banyak berinteraksi dengan para tamu dari Nusantara.

Siapa Sebenarnya Macassan Itu?

Macassan bukanlah suku tersendiri, melainkan sebutan bagi pelaut-pelaut ulung yang berpangkal di Makassar. Mereka merupakan bagian dari rumpun besar Austronesia, yaitu kumpulan etnolinguistik atau gabungan etnis-etnis besar penutur bahasa serumpun yang persebarannya sangat luas. Wilayah Austronesia membentang dari Pulau Formosa, Kepulauan Nusantara (termasuk Filipina), Mikronesia, Melanesia, Polinesia, hingga jauh ke Pulau Madagaskar.

Istilah etnolinguistik sendiri menekankan bahwa bahasa tidak dipelajari sekadar dari strukturnya, tetapi juga dari fungsi dan pemakaiannya dalam konteks sosial budaya. Menariknya, antropolog Jerman Johann Friedrich Blumenbach pernah menyebut Austronesia sebagai ras manusia kelima dalam edisi kedua bukunya, De Generis Humani Varietate Nativa, pada 1781. Ia mengelompokkan manusia berdasarkan geografi dan menjuluki orang Austronesia sebagai “orang-orang dari dunia selatan”.

Padewakang, Perahu yang Dikenal sebagai The Malay Prau

Kunci dari petualangan lintas samudra ini tentu saja adalah kapalnya. Perahu yang membawa para Macassan menyeberang ke Australia adalah Padewakang, jenis perahu tradisional Sulawesi Selatan. Di tanah Australia, kapal ini punya nama lain yang lebih akrab di telinga penduduk setempat, yakni “The Malay Prau” atau “Makassan Perahu”.

Kehadiran perahu-perahu ini begitu membekas hingga terekam dalam berbagai peninggalan, mulai dari miniatur perahu sampai lukisan. Salah satu yang paling terkenal adalah lukisan sosok perahu Makassan yang dibuat dengan teknik goresan lilin lebah (beeswax) oleh seniman Aborigin — bukti bahwa kapal dari Sulawesi ini benar-benar menjadi bagian dari ingatan visual masyarakat setempat.

Kosakata Makassar yang Tertanam di Lidah Suku Yolngu

Interaksi yang berlangsung bertahun-tahun meninggalkan warisan yang paling halus sekaligus paling awet: bahasa. Sejumlah kosakata yang dipakai suku Yolngu ternyata berakar dari perjumpaan mereka dengan para pelaut Nusantara. Kata-kata serapan ini masih dipakai dan mencerminkan hal-hal yang dulu diperkenalkan atau ditukar oleh kedua belah pihak.

  • Balanda — orang Belanda atau orang Eropa
  • Barra — angin timur laut
  • Berratha — nasi
  • Bunggawa — bos atau pemimpin
  • Djorra — kertas
  • Lipalipa — kano
  • Rrupia — uang

Jalur Teripang, Rute Budaya yang Kalah Pamor dari Jalur Rempah

Kita mungkin sudah amat akrab dengan Jalur Rempah yang melibatkan perdagangan antarnegara sekaligus menyalurkan beragam budaya asing masuk ke Nusantara — kisah yang bisa ditelusuri lewat jejak dagang seperti di Museum Bahari, gudang rempah VOC di Jakarta. Namun ada satu rute lain yang tak kalah bersejarah tetapi jarang disorot: Jalur Teripang.

Padahal, di balik perburuan teripang menuju pesisir Australia inilah pertukaran budaya lintas benua benar-benar terjadi secara damai. Teripang yang bernilai tinggi di pasar Asia menjadi alasan ekonomi, sementara bahasa, seni, dan persahabatan menjadi buah sampingnya. Sayangnya, jalur budaya ini kalah populer dibanding gemerlap Jalur Rempah yang lebih sering dibicarakan.

Ussul, Doa Pelaut Mandar dari Sulawesi Barat

Tradisi bahari Sulawesi tak hanya soal berlayar jauh, tetapi juga soal keyakinan yang menyertainya. Suku Mandar yang menetap di pesisir Sulawesi Barat — bahkan hingga ke Suriname — punya istilah khusus untuk berdoa, yaitu “Ussul”. Sebagian ulama menilai kata ini berasal dari bahasa Arab, meski suku Mandar sendiri sudah ada jauh sebelum Islam masuk ke Nusantara. Dalam pandangan mereka, laut adalah urusan kaum laki-laki, sedangkan segala hal di darat menjadi tanggung jawab perempuan. Karena itu, ketika seorang lelaki Mandar hendak melaut, keluarganya biasa mengantar sampai ke tepi pantai untuk memberikan doa baik.

Keyakinan suku Mandar soal laut pun unik. Perempuan yang sedang hamil dianjurkan berjalan di pantai, karena pelaut yang melihatnya percaya keberuntungan akan datang — misalnya tangkapan ikan yang melimpah saat melaut. Sebaliknya, jika terjadi pertikaian dalam keluarga selagi sang suami sedang di laut, mereka yakin malapetaka bisa menghadang, entah berupa laut yang tak memberi hasil atau badai yang datang menghantam di tengah pelayaran.

Kisah para Macassan membuktikan bahwa nenek moyang kita memang seorang pelaut yang membawa nama Nusantara sampai ke benua seberang, jauh sebelum peta dunia modern digambar. Masih penasaran dengan jejak budaya maritim lain yang belum banyak diceritakan? Ngobrol dan gali lebih dalam bersama Hellowayang lewat hellowayang.com/chat, dan temukan kekayaan Nusantara yang menunggu untuk dikenali.

Sumber

  • YouTube — Pantai Makassar di Tanah Australia: Jejak Tripang di Masa Lalu (https://www.youtube.com/watch?v=fRxyUKsFcT8)
  • Wikipedia — Makassan contact with Australia (https://en.wikipedia.org/wiki/Makassan_contact_with_Australia)
  • Wikipedia — Etnolinguistik (https://id.wikipedia.org/wiki/Etnolinguistik)
  • Wikipedia — Orang Austronesia (https://id.wikipedia.org/wiki/Orang_Austronesia)
  • Wikipedia — Johann Friedrich Blumenbach (https://id.wikipedia.org/wiki/Johann_Friedrich_Blumenbach)
  • Good News From Indonesia — Menelisik Kembali Interaksi Masa Lalu Pelaut Makassar dengan Suku Aborigin Australia (https://www.goodnewsfromindonesia.id/2020/03/15/menelisik-kembali-interaksi-masa-lalu-pelaut-pelaut-makassar-dengan-suku-aborigin-australia)
  • detikSulsel — Tradisi Unik Masyarakat Suku Mandar Redam Angin Kencang Lewat Alat Dapur (https://www.detik.com/sulsel/budaya/d-6476202)
ChatGPT nebak. Hellowayang ngutip.

Jawaban Real-Time, Selalu dengan Sumbernya

Tanya apa saja tentang Indonesia — regulasi, budaya, data ekonomi — dan dapatkan jawaban real-time dengan sumbernya. Gratis untuk mulai.

Mulai Chat Gratis →